Pemulihan Jiwa Korban Banjir Sumatera

2026-01-11 22:23:10
Pemulihan Jiwa Korban Banjir Sumatera
LOGISTIK berdatangan dari berbagai pihak untuk korban banjir Sumatera, semuanya sudah menumpuk antre untuk dikirimkan. Para pengungsi menunggu persediaan makanan agar tetap bertahan hidup di pengungsian. Ini memang penting, tapi tak cukup!Negara biasanya hadir ketika bencana datang, beri bantuan, bangun jembatan dan bangunan, kemudian pergi ketika air sudah surut.Banjir Sumatera bukan sekadar peristiwa fisik semata, tapi juga menghadirkan goncangan secara emosional dan psikis.Sedikit turun hujan, cemas datang, jangan-jangan banjir datang lagi. Merasa terganggu dengan suara-suara gemuruh air bersama gelondongan kayu, kehilangan harta benda, kehilangan orang tercinta.Belum lagi harus hidup di pengungsian tanpa kejelasan masa depan. Mereka melihat langsung bagaimana rumah hilang ditelan gelombang bandang, lahan sawah terkubur lumpur setinggi satu meter.Ini semua menghadirkan trauma mendalam hingga PTSD (Post Traumatic Syndrome Disorder).Baca juga: Jangan Biarkan Bau Bangkai Bicara!Sayangnya, fokus penanganan korban bencana di Indonesia sering melupakan penanganan psikis korban. Padahal, itu sama pentingnya dengan bantuan logistik, terutama pendampingan pada kelompok rentan, perempuan dan anak.Anak-anak korban bencana bisa mengalami trauma, mengalami mimpi buruk, ketakutan berpisah dengan orangtua, perubahan perilaku, hingga sulit berkonsentrasi.Pada perempuan, beban psikologis jauh lebih berat karena perempuan cenderung mengambil peran sebagai penguat keluarga. Namun, beban itu menumpuk dalam bentuk kecemasan dan kelelahan emosional.Bantuan logistik dan pembangunan kembali memang penting, tapi tidak cukup. Program pendampingan psikososial dan healing therapy harusnya menjadi bagian integral dari respons bencana. Bukan dijadikan program tambahan, tapi harus menjadi kebutuhan dasar.Bayangkan saja, jika tidak ada psikososial, trauma ini akan berlangsung dalam waktu yang lama. Generasi bakal lahir dengan perilaku depresi, kecemasan tinggi, kekerasan dalam rumah tangga, bahkan putus sekolah.Kehadiran negara tidak cukup hanya sebatas pemberian bantuan dan pembangunan kembali. Intervensi negara dalam pendampingan psikis korban banjir jauh lebih penting, karena ini akan berlangsung dalam jangka waktu panjang.Anggap saja ini sebagai investasi negara dalam pendampingan kesehatan mental terhadap perempuan dan anak, dipastikan ini menjadi investasi jangka panjang, demi memastikan generasi ke depan bukan menjadi generasi yang rapuh dan mengalami trauma.Sudah banyak studi psikososial kebencanaan (Semerci, 2023) yang membahas tentang intervensi penanganan PTSD pada korban pascabencana, ternyata dapat diminimalkan dengan psikoterapi.Bentuk kegiatannya bisa beragam dan sederhana seperti play terapi, terapi seni dan memberikan ruang untuk mengekspresikan emosi tanpa takut dihakimi.Baca juga: Endipat Wijaya Vs Ferry Irwandi: Membangun Kolaborasi, Bukan Kompetisi


(prf/ega)