DEPOK, – Di tengah deretan ruko dan bangunan modern yang padat di Jalan Pemuda, Depok, sebuah rumah tua bergaya kolonial tetap berdiri tenang dan menyimpan sejarah panjang kota itu.Rumah yang dibangun pada 1933 ini merupakan kediaman Johannes Mathijs Jonatan, Presiden Depok terakhir, dan kini ditempati oleh cucunya, Yahya Jonathan, yang lahir dan besar di sana.Dari luar, rumah itu hampir tak terlihat. Sebuah ruko baru menutup hampir seluruh fasad, sehingga banyak orang salah mengira ruko itulah “rumah presiden Depok”.Baca juga: Menguak Asal Debu Tanah Merah yang Bikin Resah Warga DepokPadahal, sekitar 30 meter di dalam pagar besi sederhana, rumah kolonial dengan jendela krepyak tinggi, teras lebar berlantai tegel merah, dan pintu-pintu kayu besar masih berdiri kokoh.“Kalau disebut Istana itu kelihatannya besar ya, padahal ini rumah pribadi saja. Setiap presiden Depok punya rumah masing-masing, bukan rumah dinas," ujar Yahya saat ditemui Kompas.com, Kamis .Rumah ini telah menjadi tempat tinggal tiga generasi: kakek, ayahnya, dan Yahya sendiri.Suasana rumah tua itu masih khas bangunan kolonial saat Kompas.com mengunjungi bangunan rumah bekas "Istana Presiden" Depok tersebut.Pengunjung harus masuk melewati pagar hitam yang letaknya berada di samping ruko yang dipergunakan sebagai rumah makan Padang dan warung sembako itu.Kompas.com pun disambut dengan ramah saat mencoba memberi tahu maksud kedatangan pada hari itu.Baca juga: Lahan Tanah Merah di Depok Akan Dipasang Pagar Usai Debu Resahkan Warga"Masuk, buka aja pagarnya," ujar sang tukang kebun yang sedang mengarit rumput di halaman rumah tersebut.Setelah beberapa kali mengetuk dan memberi salam, salah seorang anggota keluarga pun keluar, dan meminta untuk menunggu sebentar di depan.Di tempat itu juga Yahya menceritakan tentang sejarah bangunan itu, dia bilang penggunaan kata "Istana Presiden" kurang tepat, lantaran bangunan itu dulunya hanyalah rumah biasa yang ditinggali oleh kakeknya yang kebetulan Presiden terakhir Depok.Dirinya bercerita sudah tinggal di rumah tersebut sejak lahir, dari logatnya pun samar-samar terdengar khas orang Belanda yang bisa berbahasa Indonesia.Ayah Yahya, lahir tahun 1922, juga tinggal sejak lahir di rumah yang sama. Begitu pula sang kakek, meski pada masa itu rumahnya masih berupa bilik kayu.Rumah ini, bisa dibilang, adalah rumah yang menyimpan tiga generasi sejarah Depok dalam satu garis keluarga.“Warisan dari keluarga,” katanya singkat.Baca juga: Penjelasan Pemkot Soal Lahan Tanah Merah di Depok yang Resahkan WargaHafizh Wahyu Darmawan Yahya Jonathan, cucu presiden Depok terakhir Jonanes Mathijs Jonathan Yahya menekankan, rumah ini lebih dari sekadar bangunan tua. Setiap sudutnya menyimpan jejak perjalanan keluarga dan sejarah Depok.“Tapi yang lebih penting, ini tempat tinggal kakek saya, Presiden Depok yang terakhir," sambung dia.Pada 1952, rumah ini menjadi saksi negosiasi besar saat pemerintah Indonesia menghapus sistem tanah partikelir.Tanah-tanah Depok yang sebelumnya merupakan wilayah partikelir atau semacam daerah swasta dengan pemerintahan sipil sendiri harus diserahkan kepada negara. Negosiasi berlangsung di rumah ini.“Presiden Bogor datang ke sini buat negosiasi dengan kakek saya. Semua prosesnya dilakukan dari rumah ini,” tutur Yahya.
(prf/ega)
Di Balik Rumah Kolonial Presiden Depok, Menyimpan Cerita Tiga Generasi
2026-01-11 23:34:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 00:04
| 2026-01-12 00:02
| 2026-01-11 23:55
| 2026-01-11 23:39
| 2026-01-11 22:55










































