Dedi Mulyadi Akan Bertolak ke Sumatera Salurkan Bantuan Korban Banjir dan Longsor

2026-02-03 16:05:27
Dedi Mulyadi Akan Bertolak ke Sumatera Salurkan Bantuan Korban Banjir dan Longsor
BANDUNG, - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan, akan bertolak langsung ke Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Dia akan menyalurkan bantuan untuk korban terdampak banjir di Sumatera. Adapun jumlah bantuan yang berhasil di himpun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dari berbagai pihak mencapai Rp7 miliar.Baca juga: Hujan Deras Picu Bencana di Bandung: Rumah Ambruk, Angin Kencang Sapu Permukiman, Dua Mobil Hanyut"Bantuan datang dari Kadin, Korpri Jabar, Baznas, BJB juga Apindo, dan dari saya pribadi," ujar Dedi saat ditemui di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa .Mantan Bupati Purwakarta itu mengatakan, pihaknya bersama rombongan akan bertolak ke Sumatera Barat pada Kamis ."Hari Kamis saya akan berangkat ke Sumatera Barat langsung," katanya.Baca juga: Tabrakan Beruntun di Tol Cipularang Tewaskan Seorang Pengemudi, Begini KronologinyaDedi menekankan, Sumatera Barat dipilih sebagai titik awal distribusi. Selain jarak dan kondisi wilayah, harga logistik di sejumlah daerah terdampak seperti Aceh dan Sumatera Utara melambung tinggi dan stoknya terbatas. "Tadinya mau dari Pidie dari Aceh atau dari Sumatera Utara, tetapi pertimbangannya barangnya di sana sudah tidak terlalu banyak dan harganya mahal, sehingga nanti kita putuskan kita akan belanjanya di Sumatera Barat, di Padang," ucapnya.Baca juga: Tabrakan Beruntun di Tol Cipularang Tewaskan Seorang Pengemudi, Begini KronologinyaUntuk mempercepat pengiriman, Pemprov Jabar akan mencarter dua pesawat Susi Air. Maskapai milik Susi Pudjiastuti itu, kata Dedi, dinilai berpengalaman menjangkau daerah terpencil, termasuk saat mengirimkan bantuan pada masa Tsunami Aceh"Jadi nanti pesawat Susi Air itu akan mengantarkan barang-barang yang berasal dari bantuan ya, teman-teman saya dan teman-teman di Jawa Barat untuk dikirimkan ke daerah-daerah yang susah dijangkau dan bahkan belum bisa dijangkau," pungkas Dedi.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-03 15:16