Sambut Nataru, Tol Prosiwangi Ruas Gending-Paiton Dibuka 2 Pekan, Mulai 20 Desember 2025

2026-02-01 23:45:28
Sambut Nataru, Tol Prosiwangi Ruas Gending-Paiton Dibuka 2 Pekan, Mulai 20 Desember 2025
SURABAYA, - Ruas tol Probolinggo-Situbondo-Banguwangi (Prosiwangi) seksi Gending-Paiton dijadwalkan dibuka fungsional selama dua pekan menyambut libur Natal Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.Ruas tol sepanjang 24 kilometer itu akan dibuka fungsional mulai 20 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, sejak pukul 06.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB."Seksi Gending-Paiton Tol Probolinggo-Banyuwangi dibuka fungsional mulai 20 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026," kata Kepala Dinas PU Bina Marga Provinsi Jatim Edy Tambeng Wijaya saat dikonfirmasi, Rabu .Tol Prosiwangi menjadi ruas pamungkas jaringan Jalan Tol Trans-Jawa dari ujung barat hingga timur Pulau Jawa.Baca juga: Diskon Tarif Tol Trans-Jawa Berlaku untuk Semua Golongan KendaraanJalan tol ini terbagi menjadi tujuh seksi, yaitu Seksi 1 Gending-Kraksaan (12,88 kilometer), Seksi 2 Kraksaan-Paiton (11,20 kilometer), dan Seksi 3 Paiton-Besuki (25,60 kilometer).Kemudian, Seksi 4 Besuki-Situbondo (42,30 kilometer), Seksi 5 Situbondo-Asembagus (16,76 kilometer), Seksi 6 Asembagus-Bajulmati (37,45 kilometer), dan Seksi 7 Bajulmati-Ketapang (29,21 kilometer).Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim), Emil Elistianto Dardak sebelumnya menyebut bahwa Jalan Tol Prosiwangi akan menjadi katalisator pengembangan sektor pariwisata, pertanian, dan industri di kawasan Tapal Kuda.Kehadiran tol ini nantinya memangkas waktu tempuh dari Probolinggo ke Banyuwangi dari sekitar 5 jam melalui jalan arteri, menjadi hanya 2 jam.Tol Prosiwangi semula bernama Probowangi (Probolinggo-Banyuwangi). Nama Situbondo dimasukkan karena juga melintasi wilayah Kabupaten Situbondo.Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo diketahui mengusulkan penambahan nama Situbondo melalui anggota DPR RI dan disetujui."Penyebutan nama Situbondo ini penting bagi kami warga Situbondo," kata Yusuf.Baca juga: Resmi, Nama Tol Probowangi Diubah Jadi Prosiwangi


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-01 23:33