Lentera di Sumatera, Buddha Tzu Chi Tunaikan Janji Bangun 2.500 Huntap Penyintas Bencana

2026-01-11 04:15:55
Lentera di Sumatera, Buddha Tzu Chi Tunaikan Janji Bangun 2.500 Huntap Penyintas Bencana
JAKARTA, - Di hamparan tanah Sumatera yang kini masih menyisakan rona duka, aroma lumpur yang mengering di dinding-dinding kayu seolah menjadi saksi bisu atas amuk alam yang tak terperikan.Akhir November 2025 menjadi titimangsa kelam saat langit menitahkan hujan tanpa jeda, meluapkan sungai-sungai, dan meruntuhkan tebing-tebing kokoh di Aceh, Sumatera Barat, hingga Sumatera Utara.Baca juga: Seperti Apa Rupa dan Teknologi Modular Huntara di Aceh Tamiang?Namun, di tengah isak tangis yang belum mereda, hadir sebuah oase yang menjunjung tinggi martabat manusia, melampaui sekat-sekat perbedaan: Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.Melalui sebuah visi yang mereka sebut sebagai "Rumah Cinta Kasih", yayasan ini tidak sekadar membangun dinding dan atap, melainkan sedang merajut kembali martabat para penyintas yang tercerabut oleh bencana.Minggu, 21 Desember 2025, menjadi hari yang istimewa di Desa Aek Parombunan, Sibolga Selatan.Di bawah langit Sumatera Utara yang mulai cerah, gempita doa melangit saat prosesi groundbreaking Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi dilaksanakan. Baca juga: Kado Natal untuk Korban Banjir Sumatera, 2.600 Huntap Siap DibangunDi atas lahan seluas 80 meter persegi untuk setiap unitnya, akan berdiri 200 rumah tipe 36 yang menjadi bagian dari janji suci Tzu Chi untuk Sumatera.Hadirnya para pejabat seperti Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, menjadi validasi atas urgensi gerakan ini."Penyediaan rumah yang layak harus dilakukan secara cepat. Kita berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang hadir dengan sigap dalam situasi darurat maupun pemulihan," tutur Maruarar, akrab disapa Ara, dikutip Kompas.com, Selasa .Namun, esensi sejati dari pembangunan ini bukan sekadar beton dan baja. Seperti yang diungkapkan oleh Mendagri Tito Karnavian, proyek ini mengusung model relokasi strategis.Baca juga: Ara Kunjungi Huntap Tahap III, Temukan 40 Unit Masih KosongMembangun kembali di tempat asal yang rawan longsor adalah sebuah kesia-siaan, sementara merelokasi mereka ke tempat yang aman adalah sebuah kebijaksanaan.Di balik orkestrasi besar ini, ada sebuah nurani yang menggerakkan. Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei, dengan diksi yang lembut namun penuh ketegasan, mengungkapkan arah kompas yayasannya.Dalam penanganan bencana, Tzu Chi selalu menjalankan program jangka pendek, menengah, dan panjang.Kali ini, mereka berharap dapat membangun Rumah Cinta Kasih di Aceh, Sumatera Barat, dan Utara. Ini merupakan tekad bersama, agar para warga dapat segera kembali memiliki tempat tinggal dan menata kehidupan mereka.Baca juga: 2.600 Hunian Tetap Korban Banjir Sumatera Dibangun Tanpa Duit Negara"Selain itu, dalam beberapa bulan ke depan umat Muslim di Indonesia akan menyambut Hari Raya Idul Fitri. Kami berharap sebelum itu para korban bencana dapat segera hidup dengan lebih tenang dan stabil," ungkap Liu Su Mei.


(prf/ega)