Apakah Dampak Bibit Siklon Tropis 91S Sama dengan Siklon Tropis Senyar? Ini Penjelasan BMKG

2026-02-04 04:26:25
Apakah Dampak Bibit Siklon Tropis 91S Sama dengan Siklon Tropis Senyar? Ini Penjelasan BMKG
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membantah narasi yang menyebut bahwa dampak Bibit Siklon Tropis 91S sama dengan Siklon Tropis Senyar yang muncul pada akhir November 2025 silam.Informasi tersebut beredar masif di media sosial X pada Sabtu .Disebutkan bahwa Bibit Siklon Tropis 91S berpotensi menjadi "The Next Senyar"."Tidak ada dikatakan ini Next Senyar," tegas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, saat dihubungi Kompas.com, Minggu .Dia menjelaskan, Bibit Siklon Tropis 91S dan Siklon Tropis Senyar adalah dua fenomena atmosfer yang berbeda.Di sisi lain, Bibit Siklon Tropis 91S juga telah menjadi Siklon Tropis Bakung per Jumat pukul 19.00 WIB, menurut hasil Analisis BMKG."Beda jauh. Senyar itu di dekat daratan. Kalau Bibit Siklon Tropis 91S yang sudah jadi Siklon Tropis Bakung itu di laut," ungkap Guswanto.Hasil analisis BMKG menyebut, Siklon Tropis Bakung berada di wilayah Samudra Hindia barat daya Lampung dengan kecepatan angin maksimum 35 knot (65 km/jam) dan tekanan di sekitar sistem mencapai 1.000 hPa.Siklon tropis ini bergerak ke arah barat daya menjauhi wilayah Indonesia.Informasi selengkapnya terkait perkembangan Siklon Tropis di Indonesia dapat dilihat di laman resmi BMKG di https://tropicalcyclone.bmkg.go.id/#3.82/2.58/114.56.Baca juga: Ini Wilayah yang Terdampak Siklon Tropis Bakung dan Bibit Siklon Tropis 92S-93S di IndonesiaGuswanto juga menegaskan bahwa narasi penamaan Bibit Siklon "The Next Senyar" bukan resmi dari BMKG.Adapun nama resmi Bibit Siklon itu adalah Bibit Siklon Tropis 91S yang kemudian berubah menjadi Siklon Tropis Bakung setelah mengalami peningkatan status.Guswanto berharap, masyarakat hanya mempercayai informasi resmi dari BMKG.Sebab, penamaan Siklon Tropis memiliki pedoman dari World Meteorological Organization (WMO) yang berlaku secara internasional.Adapun BMKG ditunjuk menjadi lembaga yang dipercaya untuk memberikan nama Siklon Tropis yang muncul di Indonesia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-04 02:58