Dorong Pemerataan Akses Pendidikan, Polygon Bikes Salurkan Sepeda di NTT

2026-02-02 09:22:43
Dorong Pemerataan Akses Pendidikan, Polygon Bikes Salurkan Sepeda di NTT
Di sisi timur Indonesia, di balik birunya laut dan megahnya perbukitan Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), tersimpan kisah tentang semangat mengejar mimpi yang tak kalah indah.Meski pembangunan belum merata membuat akses internet terbatas dan fasilitas pendidikan belum lengkap, anak-anak di sana tetap datang setiap akhir pekan ke rumah sederhana bernama Rumah Belajar Melang.Rumah ini menjadi tempat anak-anak belajar, membaca, dan berbagi mimpi. Didirikan oleh Elvie Padafani bersama tiga relawan pengajar pada 2021, Rumah Belajar Melang awalnya berdinding anyaman rotan.Kini, berkat dukungan pemerintah setempat, bangunannya sudah lebih kokoh dengan dinding bata, namun lantai masih beralaskan tikar. Fasilitas di dalamnya pun masih terbatas, rak buku seadanya, koleksi buku yang sedikit, serta alat peraga sederhana.Setiap Sabtu dan Minggu, Rumah Belajar Melang terbuka bagi anak-anak di sekitar. Mereka belajar membaca, menulis, bahasa Indonesia dan Inggris dasar, hingga membuat kerajinan tangan yang dijual ke warga sekitar.Dari ruang kecil itu, lahir semangat kebersamaan: anak-anak SMP dan SMA mengajari adik-adiknya yang masih SD, sementara Elvie mendampingi mereka dengan setulus hati tanpa memperoleh honor sepeserpun."Rumah Belajar Melang kami dirikan bukan karena kami punya banyak uang, tapi agar anak-anak punya tempat berkegiatan positif selagi akses internet di sini terbatas. Kami ingin mereka tetap punya ruang untuk belajar, membuka dunia, dan tidak kehilangan semangatnya," ujar penggagas Rumah Belajar Melang Elvie Padafani, dalam keterangan tertulis, Kamis (11/12/2025).Kisah Elvie inilah yang menggerakkan konten kreator muda asal Temanggung Alwi Johan Yogatama (@alwijo), untuk melakukan aksi nebeng dari Jawa Tengah (Jateng) menuju Alor.Perjalanan nebeng selama empat bulan ini ia jalani bukan karena kehabisan uang, melainkan untuk mendapatkan perjalanan penuh makna sembari menggalang dana untuk merenovasi Rumah Belajar Melang."Ini adalah institusi pendidikan tempat bagi anak-anak Alor untuk belajar membaca dan bermimpi. Meski semangat mereka menggebu, tapi akses ke lokasi jauh, fasilitas masih terbatas, dan koleksi buku belum banyak," ungkap Alwi.Selama perjalanannya, Alwi menyaksikan langsung bagaimana kesenjangan pembangunan masih nyata: sulitnya air bersih, terbatasnya transportasi, dan anak-anak yang berjalan kaki menyeberangi sungai demi sekolah.Dari situlah ia memahami makna sejati perjalanan bahwa langkah kecil, bila dijalani bersama, dapat menggerakkan perubahan besar."Ini membuka pikiran saya yang Jawa-sentris. Anak sekolah di sini harus berjalan selama satu jam untuk ke sekolah, lalu bekerja mengumpulkan kayu bakar setelahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup," kata Alwi."Padahal di Jawa sepulang sekolah, pelajar biasanya bermain games online," ungkapnya.Polygon Bikes: Membangun Mobilitas Berarti Membangun Masa Depan BangsaDari Alwi, Polygon turut memaknai arti perjalanan yang terpenting bukanlah kecepatan melaju melainkan seberapa besar dampak yang kita bagikan di setiap kilometer kayuhan."Dukungan ini untuk anak-anak Alor mampu bermimpi setinggi-tinggi mungkin, karena ketika pun kita terjatuh, kita akan jatuh di tengah taburan bintang-bintang," ujar Alwi.[Gambas:Instagram]Pada Sabtu (6/12) lalu, Alwi membagikan cerita mengharukan ini pada laman Instagramnya @alwijo yang langsung dibanjiri komentar positif."Semoga adik-adik ini makin semangat sekolahnya & I hope you're always be happy and stay healthy, semoga kakak selalu dikelilingi oleh hal-hal baik," tulis akun @kjw._o.Terinspirasi oleh semangat itu, Polygon Bikes turut ambil bagian melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan menyalurkan lima unit sepeda bagi Rumah Belajar Melang, salah satu di antaranya untuk Elvie.Dukungan ini diharapkan mempermudah mobilitas Elvie, yang selama ini mengandalkan motor lamanya, serta membantu anak-anak yang berjalan jauh menuju sekolah atau rumah belajar."Bagi kami pendidikan anak adalah fondasi dasar dari kemajuan bangsa. Sayangnya, tidak semua anak-anak di Indonesia mendapatkan kesempatan emas itu," ungkap Brand Marketing Polygon Bikes Alda Miranda."Masih banyak dari mereka yang kesulitan berangkat ke sekolah, meskipun begitu mereka tetap semangat. Maka dari itu, dengan membangun mobilitas yang baik, harapannya dapat membangun masa depan anak-anak yang baik juga," sambungnya."Kami turut menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada kak Alwi, yang sudah berbesar hati menjangkau anak-anak di Alor dengan program Nebeng-nya," tutup Alda.Aksi CSR ini adalah satu dari banyak aksi berkelanjutan Polygon mendukung semangat anak bangsa menaklukkan batas. Karena setiap langkah kecil kita adalah perjalanan besar bagi bangsa, Indonesia Bisa bersama Polygon.Polygon Bersama Satgas Bantu Penyintas Bencana Aceh dan SumateraSelain mendukung Rumah Belajar Melang, Polygon turut menyumbangkan tujuh unit untuk satuan tugas (satgas) yang menangani banjir dan tanah longsor di Sumatera. Melalui organisasi non-profit World Wide Fund for Nature (WWF) dan Kementerian Perindustrian RI, sepeda tersebut disalurkan untuk mempercepat pendistribusian kebutuhan pokok, mengevakuasi korban, mempermudah pemantauan titik banjir, serta menjangkau area terdampak yang sulit dilewati kendaraan bermesin.Donasi sepeda sebagai bentuk solidaritas Indonesia ini bisa membantu mereka di tengah sulitnya akses transportasi dan mobilitas akibat bencana."Meski belum seberapa dibanding kerusakan di sana, tetapi kami berharap bantuan kecil ini dapat meringankan langkah mereka dalam membantu masyarakat terdampak bencana," ujar Alda.Tonton juga video "Perempuan Pencuri Sepeda Listrik Diarak Warga Keliling Gili Trawangan"[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-02-02 08:01