Indonesia Setop Impor, Menko Pangan Zulhas Sebut Harga Beras Dunia Turun Tajam

2026-01-12 02:18:53
Indonesia Setop Impor, Menko Pangan Zulhas Sebut Harga Beras Dunia Turun Tajam
- Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan kebijakan Indonesia menghentikan impor beras berdampak signifikan terhadap harga beras global.Indonesia yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu importir beras terbesar dunia kini mampu mencukupi kebutuhan dari produksi dalam negeri.Zulhas mengungkapkan, ketika Indonesia masih aktif mengimpor beras, harga beras dunia berada pada level tinggi.Namun, setelah Indonesia tidak lagi menjadi pembeli besar di pasar internasional, harga beras global mengalami penurunan tajam.“Ternyata kita ini pembeli beras terbesar di dunia. Dulu waktu saya Menteri Perdagangan, itu beras 650 dolar AS per tonnya, sekarang karena kita tidak belanja beras, itu di bawah 400 dolar AS. Jadi pengaruh ke harga dunia, luar biasa,” kata Zulhas di Jakarta, Selasa.Baca juga: Holding BUMN Danareksa Salurkan 5 Ton Beras dan Sembako untuk Korban Banjir SumateraZulhas menjelaskan, Indonesia sempat mengimpor beras dalam jumlah besar pada 2024. Sepanjang tahun tersebut, impor beras Indonesia tercatat mencapai 4,5 juta ton.Namun, kondisi itu berubah drastis pada 2025. Indonesia berhasil mencatatkan surplus produksi beras sebesar 4,7 juta ton. Bahkan, stok beras nasional yang tersimpan di gudang Perum Bulog saat ini telah mencapai 3,7 juta ton.Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan), produksi beras Indonesia pada periode Januari–Desember 2025 mencapai 34,77 juta ton. Angka ini meningkat 13,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.Tak hanya beras, produksi jagung nasional juga menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, produksi jagung Indonesia mencapai 16,55 juta ton atau naik 9,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya.Baca juga: Kisah Warga Hadapi Banjir Aceh Tamiang: Saya Gigit Beras, Minum Air Lumpur, Kayu Luar Biasa MenakutkanZulhas menilai lonjakan produksi pangan nasional, khususnya beras dan jagung, tidak lepas dari langkah pemerintah memangkas regulasi yang selama ini menghambat sektor pertanian.Salah satu kebijakan krusial adalah penyederhanaan aturan pengadaan pupuk bersubsidi.Ia menyebutkan, sebelumnya terdapat sekitar 148 regulasi yang mengatur pengadaan pupuk. Jumlah tersebut kini dipangkas menjadi hanya 33 aturan.“Jadi pupuk sampai sebelum tanam. Sebelum tanam, pupuk sudah diterima. Itu pengaruhnya luar biasa, pengaruh terhadap produksi beras itu luar biasa,” ujar Zulhas.Dengan regulasi yang lebih sederhana, petani dapat memperoleh pupuk bersubsidi tepat waktu sesuai jadwal tanam. Hal ini berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas pertanian.Baca juga: Kabar Dugaan Warga Tapak Moge Meninggal Cari Beras, Kepala Desa dan Kominfo Aceh Tengah Klarifikasi: HoaksLebih lanjut, Zulhas menyampaikan optimisme pemerintah terhadap capaian swasembada beras Indonesia. Ia menyebutkan, Indonesia sejatinya telah mencapai swasembada beras dalam satu tahun terakhir.Pengumuman resmi terkait keberhasilan swasembada beras tersebut rencananya akan disampaikan pada akhir tahun ini atau awal tahun mendatang oleh Menteri Pertanian.“Satu tahun ini kita sudah swasembada, nanti Mentan akan umumkan bahwa Indonesia berhasil swasembada beras,” imbuh Zulhas.


(prf/ega)