Menakar Cuan Pasar Modal di Akhir Tahun, Masih Menarik untuk Investor?

2026-01-12 03:40:33
Menakar Cuan Pasar Modal di Akhir Tahun, Masih Menarik untuk Investor?
JAKARTA, - Pasar modal memasuki periode yang kerap membawa sentimen positif. IHSG mendekati akhir tahun dengan dua fenomena musiman, yaitu window dressing dan santa claus rally.Window dressing biasanya muncul pada pekan terakhir Desember. Fenomena ini sering terjadi ketika manajer investasi menata ulang portofolio jelang tutup buku.Santa claus rally umumnya berlangsung sejak pekan ketiga Desember hingga pekan pertama Januari. Kenaikan harga biasanya dipicu perilaku kolektif investor dan sentimen menjelang pergantian tahun.Baca juga: Bobby Nasution Dorong ASN Pemprov Sumut Jadi Investor Pasar ModalPengamat pasar modal sekaligus Guru Besar IPMI Institute, Roy Sembel, menilai periode Desember hingga Januari konsisten memberi imbal hasil tinggi bagi IHSG."Makannya ada return of end year effect, efek akhir tahun, biasanya Desember-Januari," ucap dia.Catatan Roy menunjukkan tren itu bertahan sejak 1984 hingga 2024. Periode tersebut juga dianggap memberi peluang bagi perusahaan yang ingin melakukan IPO."Bisa jadi window opportunity bagi IPO-IPO dan go public," ujar Roy.Ia mengingatkan investor tetap menilai fundamental perusahaan, termasuk proyeksi bisnis dan sumber pendapatan."Again, in summary, back to basic," ujar Roy.Baca juga: Grup Sampoerna Hengkang dari Pasar Modal RI, Akhiri Tiga Dekade Kiprah di BursaPengamat pasar modal Reydi Octa menilai momentum akhir tahun layak diperhatikan. Peluang kenaikan cukup besar jika melihat pola historis.Meski begitu, Reydi mengingatkan risiko FOMO yang kerap muncul saat reli berlangsung.“Investor dapat memanfaatkan dua momentum tersebut, terlebih secara historikal momentum tersebut probabilitasnya cukup tinggi untuk terjadi, yang terpenting investor jangan FOMO dan tetap fokus terhadap fundamental perusahaan,” kata Reydi kepada Kompas.com.Ia menyarankan pemilihan saham berdasarkan laporan keuangan yang menunjukkan peningkatan kinerja, bukan saham yang bergerak karena isu.Window dressing dan santa claus rally juga membawa risiko aksi ambil untung. Karena itu, investor perlu menjaga disiplin terhadap rencana transaksi agar tidak terjebak membeli di harga pucuk.“Kenapa jangan FOMO? karena window dressing atau santa claus rally juga diikuti oleh risiko momentum profit taking, posisi investor jangka pendek akan cenderung berada di pucuk,” ucap Reydi.


(prf/ega)