Ibu Hamil di Papua Meninggal Usai Ditolak 4 RS, Anggota DPR: Ada Sanksinya Enggak?

2026-01-12 04:43:27
Ibu Hamil di Papua Meninggal Usai Ditolak 4 RS, Anggota DPR: Ada Sanksinya Enggak?
JAKARTA, - Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris menyoroti kasus ibu hamil bernama Irene Sokoy yang meninggal setelah ditolak oleh empat rumah sakit (RS) di Papua.Charles menegaskan, kejadian yang menimpa Irene ini merupakan gambaran bahwa layanan kesehatan untuk rakyat masih sangat timpang di daerah tertinggal.Hal tersebut disampaikan Charles dalam rapat Komisi IX DPR bersama Kemenkes dan BPJS Kesehatan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu ."Kalau kita melihat kejadian yang menimpa Ibu Irene Sokoy di Papua yang meninggal dalam kondisi hamil ditolak untuk bisa berobat di empat RS, ini adalah gambaran yang sangat akurat, menurut saya, gambaran yang akurat betapa layanan kesehatan untuk rakyat masih jauh dari kata merata. Masih ada ketimpangan, khususnya di wilayah-wilayah 3T," ujar Charles.Baca juga: Kemenkes Mulai Investigasi Kematian Ibu Hamil Ditolak RS di Papua, Buka Peluang SanksiIa merasa miris dan sedih ketika kasus Irene Sokoy menjadi ramai di media sosial.Sebab, kata dia, pemerintah baru reaktif setelah insiden memilukan ini viral."Kalau kita melihat dari tahun ke tahun, kebijakan pemerintah itu seringkali reaktif terhadap apa yang viral. Makanya kalau kita lihat media sosial, lagi ada istilah 'no viral no justice'," ujar dia."Nah, harapan saya tentunya, dengan kejadian yang menimpa Ibu Irene dan anaknya yang masih dalam kandungan, kebijakan yang akan dijalankan bukan hanya sekadar kebijakan reaktif, tetapi termasuk kehadiran kita di sini. Kita ingin membangun atau mendorong kebijakan komprehensif yang tujuannya adalah membangun sistem sehingga ke depan tidak ada lagi kejadian-kejadian seperti Ibu Irene di kemudian hari," sambung Charles.Charles berharap, ke depannya, tidak muncul lagi kasus Irene Sokoy lainnya.Dia mendorong Kemenkes untuk melakukan perbaikan sistemik.Kemudian, Charles mempertanyakan kepada Kemenkes apakah empat RS yang menolak Irene Sokoy itu diberikan sanksi atau tidak.Baca juga: Saat Presiden Turun Tangan di Kasus Ibu Hamil Meninggal di Papua"Mekanisme pengawasan agar rumah sakit tidak lagi menolak pasien emergency. Undang-undangnya kan jelas kita bahas di sini, kita yang buat, rumah sakit faskes tidak boleh menolak pasien apabila dalam keadaan emergency. Jadi, ke depan seperti apa sanksinya? Ada enggak untuk empat rumah sakit tersebut?" tukas Charles.Dirjen Sumber Daya Kesehatan Kemenkes Yuli Farianti yang hadir dalam rapat pun angkat bicara.Yuli mengatakan, solusi untuk mengatasi kasus Irene Sokoy tidak bisa selesai dalam waktu 10 menit saja."Barangkali ini Pak Charles, enggak mungkin dalam waktu 10 menit kita bisa mencari solusi yang terbaik. Saya sebenarnya sudah ada beberapa rekomendasi apa yang perlu kita ke BKN, MenPAN-RB. Mohon maaf, Bapak, saat ini yang diterima ASN itu cuma 2,6 persen yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan kita," ujar Yuli.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Irwan mengaku bersyukur atas penghargaan yang telah diraih. Ia menekankan bahwa fokus utama perusahaan dimulai dari internal, yaitu kebahagiaan dan kesehatan karyawan, sebelum meluas ke masyarakat.“Ketika saya ditanya dewan juri, saya sampaikan bahwa fokus utama kami adalah membahagiakan dan menjaga kesehatan karyawan terlebih dahulu. Kalau karyawan yang dekat dengan kami saja tidak sehat dan bahagia, bagaimana kami bisa mengurus masyarakat yang lebih luas.” ujar Irwan kepada Kompas.com, Rabu.Irwan menambahkan, penghargaan yang diraih pihaknya  merupakan kerja kolektif seluruh karyawan dan tim.“Persyaratannya sangat banyak, ada 17 goals dan 169 target. Mustahil dicapai tanpa komitmen bersama,” kata Irwan.Pihaknya pun senantiasa mendorong seluruh elemen perusahaan berpartisipasi dalam berbagai upaya pencapaian SDGs, terutama terkait kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan.Baca juga: Anggota Komisi IX DPR Kagumi Standar Produksi Sido MunculSido Muncul juga menegaskan komitmennya untuk membantu program nasional, melalui program penanganan stunting dan tidak mengambil bagian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).“Kami memilih memberikan bantuan berupa dana agar ibu-ibu bisa membeli kebutuhan gizi yang sesuai. Tahun depan kontribusi kami akan ditingkatkan,” katanya./Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat memegang piala penghargaan Terbaik I kategori Badan Usaha Besar Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 berkat keberhasilan program Smartani. Program Smartani yang mengantarkan Sido Muncul meraih juara pertama merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Program ini telah diinisiasi sejak 2021 dan menyasar kelompok tani di wilayah Semarang.Saat ini, sedikitnya 3.000 petani dan peternak telah mendapat pendampingan dari Sido Muncul.“Di tingkat hilir, kami membina karyawan untuk menjadi distributor. Sekarang ada sekitar 60 hingga 70 distributor yang dulunya karyawan kami dan kini sudah mandiri,” ungkap Irwan.Baca juga: Hadirkan Terang, Sido Muncul Gelar Operasi Katarak GratisManajer Lingkungan Sido Muncul, Amri Cahyono, menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap SDGs diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.Ia menyampaikan bahwa perusahaan secara konsisten memperkuat kontribusi terhadap 17 tujuan SDGs.“Program Smartani kami gagas untuk mewujudkan visi perusahaan, yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hingga saat ini, Sido Muncul telah memenuhi seluruh 17 tujuan SDGs,” ujarnya.Amri menjelaskan bahwa Smartani di Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Semarang, dikembangkan dengan pendekatan nature-based solution. Implementasinya dimulai dengan social mapping untuk memetakan potensi lokal.“Di desa ini ada kelompok petani alpukat, peternak sapi perah, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ‘Mbok Jajan’ yang sebelumnya terdampak Covid-19. Kami memberikan pelatihan agar mereka dapat kembali produktif, dan kini produk mereka sudah memasok ke Sido Muncul,” terang Amri.Baca juga: Konsisten Bantu Tangani Katarak, Sido Muncul Kembali Raih Perdami Award/Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat bersama tim dalam ajang Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 di Jakarta, Rabu .

| 2026-01-12 03:10