Polisi di Jalan Kemanusiaan, Pelita Bagi Anak-Anak Indonesia

2026-01-12 06:31:03
Polisi di Jalan Kemanusiaan, Pelita Bagi Anak-Anak Indonesia
Jakarta - Di lantai dua bangunan sederhana bercat hijau, suara Ipda Yunus Labba mengalun pelan memimpin doa. Puluhan anak duduk bersila di depannya, tangan terlipat rapi, mata tertutup dalam kekhusyukan. Malam 28 Desember 2025 itu, suasana di Panti Asuhan Generasi Pengubah terasa hangat dan tenang.Usai doa, mereka bergeser ke ruang makan. Yunus duduk di antara anak-anak, membaur tanpa sekat. Suara piring beradu dengan senda gurau kecil yang memecah sunyi di Jalan HR Koroh KM 8, Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).Malam belum usai. Setelah makan, Yunus dan anak-anak berkumpul kembali. Kali ini untuk belajar bersama. Di bawah cahaya lampu seadanya, satu jam terakhir sebelum tidur diisi dengan buku.AdvertisementSudah delapan tahun Yunus menjadi sosok ayah sekaligus pengayom di Panti Asuhan Generasi Pengubah. Tapi perjalanannya merawat anak-anak dalam kesulitan dimulai jauh sebelum bangunan dua lantai itu berdiri kokoh. Semua berawal tahun 2006. Setelah menikahi Marselina Wunda Laba, Yunus menemukan tujuh anak hidup dalam kemiskinan yang memilukan. Mereka tak punya tempat tinggal layak, apalagi akses pendidikan. Hatinya tergerak. Bersama istrinya, Yunus mengajak mereka tinggal bersama, menyekolahkan, dan merawat layaknya anak sendiri.Delapan tahun kemudian, jumlah anak asuh bertambah menjadi 24 orang. Sebagai seorang polisi berpangkat Brigadir Polisi, Yunus kala itu tahu penghasilannya tak akan cukup. Namun menyerah bukan pilihan. Dia memutar otak untuk mencari penghasilan tambahan. Di luar jam dinas, dia menjadi chief security di Lippo Plaza Kupang.Hari-hari Yunus nyaris tanpa jeda. Pagi bertugas sebagai polisi, malam menjaga keamanan mal, dan pulang sebagai ayah dari puluhan anak yang menanti di rumah. Namun, meski sudah bekerja siang malam, pemasukan tetap belum mencukupi. Beban ekonomi makin berat. Yunus pun mulai menceritakan kondisinya kepada rekan-rekannya. "Teman-teman bilang, ‘Bro, kalau tidak bikin wadah sosial, nanti kamu akan setengah mati. Kalau ada wadah dapat bantuan pemerintah dan swasta',” kenangnya sambil tersenyum saat berbincang dengan Minggu .Dari titik itulah Yunus semakin mantap melangkah. Pada akhir 2016, dia mengajukan permohonan pendirian panti asuhan ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Butuh waktu satu tahun hingga permohonan itu akhirnya disetujui. Sejak panti asuhan resmi berdiri, jumlah anak asuh yang dirawat Yunus terus bertambah tanpa henti. Hingga tahun 2025, jumlah mereka telah mencapai 121 anak. Sekitar 40 persen dari mereka adalah anak yatim piatu, sementara sisanya terdiri dari anak-anak yatim, piatu, terlantar, dan keluarga kurang mampu.  


(prf/ega)