Tekanan Global Bayangi IHSG, Analis Waspadai Koreksi ke Area 8.400

2026-01-12 04:15:05
Tekanan Global Bayangi IHSG, Analis Waspadai Koreksi ke Area 8.400
JAKARTA, – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat di level 8.609. Posisi ini melemah sekitar 0,10 persen dibandingkan penutupan pekan sebelumnya.Pelemahan IHSG diikuti aksi jual bersih investor asing. Nilai outflow asing di pasar reguler tercatat mencapai Rp 365 miliar.Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menjelaskan tekanan pada IHSG dipicu sentimen global. Salah satunya berasal dari data tingkat pengangguran Amerika Serikat.Baca juga: IHSG Melemah ke 8.609, Analis Waspadai Koreksi LanjutanLapangan kerja AS memang bertambah pada November. Namun, tingkat pengangguran justru naik ke 4,6 persen. Kondisi ini memberi sinyal pasar tenaga kerja mulai melemah di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan.Sentimen global lain datang dari Jepang. Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,75 persen. Level ini menjadi yang tertinggi sejak 1995.Sementara itu, dari domestik, Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.“Sentimen-sentimen tersebut membuat pergerakan IHSG sedikit lesu,” ujar David melalui keterangan pers, Senin .Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai tekanan koreksi masih berpeluang berlanjut. Berdasarkan analisis gelombang, IHSG diperkirakan berada pada bagian gelombang [iv] dari wave 5 dalam skenario utama.Dengan posisi tersebut, indeks dinilai rawan melanjutkan koreksi jangka pendek. Area yang berpotensi diuji berada di kisaran 8.464 hingga 8.560, sekaligus menutup celah tipis yang terbentuk sebelumnya.“IHSG melanjutkan koreksinya sebesar 0,10 persen ke 8,609 dan masih didominasi oleh tekanan jual meskipun cenderung mengecil, dan sudah break MA20. Kami memperkirakan, saat ini IHSG sedang berada pada bagian dari wave [iv] dari wave 5 pada label hitam, sehingga selanjutnya IHSG rawan terkoreksi dahulu untuk menguji 8,464-8,560 sekaligus menutup area gap tipisnya,” ujar Herditya.Baca juga: IHSG Sepekan Turun 0,59 Persen, Kapitalisasi Pasar Jadi Rp 15.788 TSkenario terburuk juga perlu diwaspadai. Dalam kondisi ini, IHSG diperkirakan telah menyelesaikan wave (1) dan berpotensi terkoreksi lebih dalam menuju area psikologis 8.000-an.“Namun worst case (merah), IHSG sudah menyelesaikan wave (1) dan akan terkoreksi cukup dalam ke area 8,000-an,” paparnya.Pekan ini, aktivitas perdagangan bursa berlangsung lebih singkat. Bursa hanya buka selama tiga hari, yakni 22–24 Desember 2025. Libur dan cuti bersama Natal jatuh pada 25–26 Desember 2025.David meminta investor mencermati perkembangan Framework Agreement antara Amerika Serikat dan Indonesia. Sejumlah pejabat AS, seperti diberitakan Financial Times dan Reuters, menilai kesepakatan tersebut berisiko batal. Indonesia dinilai mundur dari komitmen yang disepakati pada Juli lalu.Terkait proyeksi IHSG menembus level 9.000 hingga akhir 2025, David menilai peluang itu masih terbuka. Namun, realisasi target tersebut bergantung sejumlah faktor.Faktor pendukung mencakup belanja pemerintah dan kebijakan fiskal agresif, pelonggaran moneter berkelanjutan, perbaikan kondisi global, stabilitas makro, re-rating valuasi, peningkatan kinerja korporasi, serta minat investor yang kembali menguat.


(prf/ega)