Strategi Coklat Cau Bikin Petani Kakao di Bali Sejahtera

2026-01-16 04:13:55
Strategi Coklat Cau Bikin Petani Kakao di Bali Sejahtera
TABANAN, - Cau Chocolates adalah sebuah perusahaan pengolahan biji kakao yang telah berdiri sejak 2014 di Tabanan, Bali.CEO Cau Chocolates I Kadek Surya Prasetya Wiguna mengawali bisnis ini dengan bimbingan ayahnya I Wayan Alit Artha Wiguna yang merupakan seorang penyuluh pertanian.Dengan semangat untuk memberikan kemudahan akses bagai petani kakao lokal untuk mendistribusikan hasil pertanian, Kadek mantap untuk keluar dari pekerjaan sebelumnya sebagai seorang bankir di salah satu bank pelat merah.Baca juga: Asa Petani Kakao, Tingkatkan Taraf Hidup Lewat Nikmat Produk CokelatCau Chocolates sendiri hadir dengan fokus untuk membina para petani untuk menghasilkan biji kakao dengan produktivitas dan kualitas tinggi.CEO Cau Chocolates I Kadek Surya Prasetya Wiguna menjelaskan, luas lahan petani binaan saat ini berkisar 300-400 hektare.Adapun, produksi biji kakao di Indonesia sendiri saat ini baru mencapai rata-rata 600 kg per hektare per tahun."Itu sangat kecil, seharusnya kami bisa mendorong mencapai 2 ton per hektare per tahun dengan menggunakan bibit dan pemupukan yang baik," ungkap dia./ AGUSTINUS RANGGA RESPATI Sala satu petani dari Kelompok Tani Kakao Cipta Gemilang, Gede Suartama (60), mengecek kondisi buah kakao di kebun milik Cau Chocolates di Tabanan, BaliIa menceritakan, dalam kebun percontohkan milik Cau Chocolates satu hektare lahan bisa menghasilkan 1,5-1,7 ton per hektare per tahun.Dengan rata-rata harga biji kakao Rp 100.000 per kg, seorang petani bisa memeroleh Rp 150 juta per hektare per tahun."Artinya itu berarti petani bisa mendapatkan harga atau uang sampai dengan Rp 150 juta per tahun atau di atas 10 juta per bulan," ungkap Kadek.Dengan hasil tersebut, petani kakao di Indonesia bisa mencapai tahap kesejahteraan yang lebih baik.Baca juga: Produk Kakao Sabang Sudah Ekspor, Mentan: Ini Serangan Balik Ke EropaSaat ini, Kadek menceritakan, Cau Chocolates tengah dapat proses pengembangan pabrik pengolahan coklat yang lebih besar. Rencanaya pabrik ini bisa mengolah hingga 2 ton biji kakao per hari.Saat ini, Cau Chocolates baru dapat mengolah sekitar 300-500 kg biji per hari, atau sekitar 9-15 ton per bulan.Musim liburan akan mendorong produksi mengingat produk Cau Chocolates kerap diburu wisatawan asing dan domestik sebagai oleh-oleh.Sebagai gambaran, jumlah wisatawan yang berlibur ke Bali bisa mencapai 6-7 juta orang dalam setahun."Karena coklat ini memang merupakan komoditas yang sangat dihargai di luar negeri, yang banyak menggunakan produk kami memang orang-orang luar negeri," ucap dia.Perlu diketahui, tingkat konsumsi coklat masyarakat Indonesia masih berada di kisaran setengah kg per tahun, atau lebih tepatnya dalah 400-600 gram.Sementara, Swiss yang dikenal sebagai negara penghasil produk coklat berkualitas memiliki tingkat konsumsi sebesar 10 kg per kapita per tahun.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Selain kecepatan internet mobile, DataReportal x Ookla ini juga mengungkap kecepatan internet kabel (fixed broadband) di Indonesia.Adapun median download speed internet kabel di Indonesia kini tercatat di 39,88 Mbps, naik 24,4 persen dari tahun lalu.Sementara median upload kini tercatat di angka 26,61 Mbps (naik 37,4 persen) dan latensi di angka 7 ms (turun 12,5 persen).Perlu dicatat, laporan ini menggunakan pengukuran median. Ini merujuk pada kecepatan rata-rata tengah ketika pengguna mengunduh data dari internet ke perangkat.Berbeda dengan rata-rata biasa (mean) yang bisa dipengaruhi oleh hasil pengukuran ekstrem, median menunjukkan angka tengah dari seluruh tes kecepatan.Artinya, setengah pengguna di Indonesia mendapatkan kecepatan unduh di bawah 45,01 Mbps, dan setengahnya lagi di atas angka tersebut, ketika menggunakan data seluler. Dengan cara ini, data dianggap lebih merepresentasikan pengalaman nyata pengguna sehari-hari.speedtest Dalam kategori internet seluler, Bekasi menempati posisi ke -118 (dari 148 kota) secara global, sekaligus menjadi yang tertinggi di Indonesia dengan kecepatan unduh (download speed) median 54,59 MbpsDalam laporan Ookla yang dipublikasi secara terpisah, Bekasi dan Jakarta Selatan (Jaksel) tercatat sebagai kota dengan internet tercepat di Indonesia, kecepatannya tembus di atas 50 Mbps untuk data seluler.Baca juga: Kecepatan Internet Indonesia Meningkat 10 Kali Lipat sejak 2014Laporan Speedtest merinci, dalam kategori internet seluler, Bekasi punya nilai tengah download speed 54,59 Mbps. Sementara Jaksel dengan 52,29 Mbps.Selain itu, Speedtest juga mengukur angka tengah kecepatan unggah (upload speed) dan latensi.Menurut laporan Speedtest, Bekasi punya kecepatan unggah 21,05 Mbps dan latensi 18 ms. Sementara, Jaksel punya kecepatan unggah 17,84 Mbps dan latensi 20 ms.Capaian ini menjadikan keduanya sebagai representasi kota dengan internet tercepat di Indonesia, meski secara global posisinya masih di papan bawah.

| 2026-01-16 03:36