Kronologi Ibu Hamil Ditolak 4 RS di Papua hingga Meninggal Menurut Wamenkes

2026-02-02 01:44:52
Kronologi Ibu Hamil Ditolak 4 RS di Papua hingga Meninggal Menurut Wamenkes
JAKARTA, - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menjelaskan kronologi seorang ibu hamil bernama Irene Sokoy yang ditolak empat rumah sakit (RS) hingga akhirnya meninggal dunia.  "Secara umum, kami sudah mendapatkan sedikit bahwa ada pelayanan, pasien datang ke rumah sakit pertama, dokternya sedang cuti, tidak ada, dirujuk lagi ke tempat kedua," ujar Ben di The Grand Platinum Hotel, Jakarta Pusat, Selasa . Ben menjelaskan bahwa Irene di Jayapura, Papua, itu tidak bisa melahirkan normal atau pervaginam karena memiliki panggul yang kecil, sementara berat bayinya cukup besar. "Berat badannya (bayi) itu sudah besar, pada waktu itu sudah disarankan bahwa pasien ini harus operasi, enggak bisa lahir pervaginam karena berat bayi lebih gede daripada panggulnya," tutur Ben.Baca juga: Menkes Kirim Tim ke Papua, Usut Kasus Ibu Hamil Ditolak 4 Rumah Sakit Berdasarkan hasil pengecekan itu, Irene berpindah lagi ke rumah sakit lain yang memiliki alat penanganan medis memadai. "Nah itulah yang terjadi, waktu dia pindah lagi ke rumah sakit yang lainnya, terjadi gawat janin, akhirnya terjadi itu (meninggal)," tuturnya.Irene Sokoy meninggal dunia di Jayapura pada Senin pukul 05.00 WIT.Baca juga: Puan Tugaskan Komisi IX DPR Evaluasi Pelayanan Kesehatan Buntut Ibu Hamil Meninggal di PapuaBen mengatakan, Kemenkes akan melakukan investigasi di rumah sakit yang meminta keluarga Irene untuk membayar uang muka Rp 4 juta dengan alasan kamar BPJS penuh. "Ada masalah dengan pelayanan di satu tempat, di mana tempat itu rumah sakit itu punya pelayanan bahwa kelas tiganya penuh dan itu sedang kita investigasi," ucapnya. "Supaya kita jangan sampai, kasian kalau orang kita judge, padahal mungkin mereka sudah bekerja mati-matian, jadi lebih baik kita tunggu hasilnya dari investigasi kita ya," tuturnya.Irene Sokoy, meninggal pada Senin pukul 05.00 WIT setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan dari RSUD Yowari, RS Dian Harapan, RSUD Abepura, hingga RS Bhayangkara tanpa mendapatkan penanganan memadai. Kepala Kampung Hobong, Abraham Kabey, yang juga mertua almarhum, menceritakan bahwa Irene mulai merasakan kontraksi pada Minggu siang .Baca juga: Mendagri dan Menkes Turun Tangani Kasus Ibu Hamil Meninggal di Papua Atas Perintah Prabowo Keluarga membawanya menggunakan speedboat menuju RSUD Yowari. Namun, kondisi Irene yang memburuk tidak segera ditangani karena dokter tidak ada di tempat dan pembuatan surat rujukan pun sangat lambat. "Pelayanan sangat lama. Hampir jam 12 malam surat belum dibuat," ujar Abraham.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-01 23:49