Jelang Nataru, Solar Langka di Sumenep Picu Antrean Panjang di SPBU

2026-01-13 00:21:52
Jelang Nataru, Solar Langka di Sumenep Picu Antrean Panjang di SPBU
SUMENEP, — Menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dikeluhkan langka.Kondisi tersebut memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), terutama pada malam hari.Pantauan Kompas.com di SPBU Desa Paberasan, Kecamatan Kota Sumenep, Senin malam, antrean kendaraan roda empat tampak mengular hingga ke badan jalan raya.Mayoritas kendaraan yang mengantre merupakan truk dan mobil angkutan barang yang membutuhkan solar untuk operasional harian.Salah satu sopir truk, Imam, mengaku sudah beberapa hari terakhir kesulitan mendapatkan solar di wilayah Sumenep. Kondisi tersebut membuat waktu kerjanya menjadi tidak menentu.“Solar ini mulai susah sejak beberapa hari lalu,” kata Imam kepada Kompas.com di Sumenep.Baca juga: Angin Puting Beliung Rusak Rumah Warga dan Pesantren di SumenepMenurut Imam, informasi yang beredar di kalangan sopir menyebutkan banyak warga membeli solar dalam jumlah besar sehingga stok di SPBU cepat habis.“Begitu ada solar, antreannya langsung panjang. Kadang harus nunggu sampai malam,” tambahnya.Akibat kelangkaan tersebut, Imam terpaksa menunda jadwal pengangkutan barang.“Pernah saya baru dapat solar malam hari, akhirnya barang baru bisa diangkut besok,” ungkap dia.Keluhan serupa disampaikan Malik, pemilik mobil diesel yang juga ikut mengantre. Ia menyebut antrean panjang hampir selalu terjadi saat membeli solar.“Belakangan ini hampir tiap mau beli solar pasti antre lama,” tutur Malik.Baca juga: Solar Diduga Langka di Pamekasan, Puluhan Kendaraan Antre di Satu SPBUAntrean panjang tidak hanya terjadi di SPBU Paberasan. Kondisi serupa juga terpantau di SPBU Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep, serta SPBU Desa Gedungan, Kecamatan Batuan.Menanggapi kondisi tersebut, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa menjelang Natal dan Tahun Baru, Pertamina telah melakukan penyesuaian dan penambahan kuota di masing-masing SPBU.“Untuk menghadapi Nataru, kuota di tiap SPBU sebenarnya sudah disesuaikan dan ditambah,” kata Ahad, Selasa .


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-12 23:25