KUALA LUMPUR, - Warga Malaysia ramai-ramai memboikot produk makanan cepat saji asal AS, McDonald's karena mendukung genosida di Gaza.Seruan boikot ini mengemuka seiring peperangan di Gaza sejak 7 Oktober 2023.Di balik aksi boikot itu, pasangan suami istri asal Malaysia bernama Lailatul Sarahjana dan Mohd Taufik Khairuddin berhasil mengembangkan produk tandingan McDonald's.Ini berawal dari anak-anaknya yang suka makan ayam goreng, salah satu menu populer dari McDonald's.Tanpa mengesampingkan keinginan itu, Lailatul memilih untuk menggoreng sendiri ayam di rumah.Baca juga: Malaysia Bakal Larang Penuh Vape pada Pertengahan 2026Dengan keyakinan banyak warga Malaysia yang mendambakan ayam goreng dan menghindari produk asing, ia kemudian memutuskan untuk meluncurkan sebuah gerai kecil. Hanya dalam waktu satu tahun, bisnisnya yang bernama Ahmad's Fried Chicken kini memiliki 35 gerai, seperti diberitakan Business Times, Jumat .Pada akhir 2026, jumlah tersebut akan melonjak menjadi sekitar 110 gerai.Gerai ayam goreng itu bahkan mencatatkan omset penjualan sekitar RM3 juta per bulan atau sekitar Rp 12,2 miliar.Ini merupakan hasil yang sangat baik dari RM700.000 atau sekitar Rp 2,8 miliar yang mereka investasikan untuk membangun gerai fisik pertama pada Desember 2024.Baca juga: Gegara Rok Pendek, Ibu dan Anak Korban Kecelakaan di Malaysia Ditolak Masuk Kantor PolisiDengan mayoritas penduduk beragama Islam, seruan boikot terhadap banyak produk asing memicu ledakan merek lokal.Tak hanya produk ayam goreng itu, jaringan kafe Malaysia Zuspresso yang sebelumnya hanya punya sedikit gerai pada 2023, berkembang pesat setelah adanya aksi boikot terhadap Starbucks.Saat ini, jaringan yang dikenal sebagai Zus Coffee menjadi pemasok kopi terbesar di Malaysia.Mereka memiliki lebih dari 700 gerai yang menjual pumpkin spice latte serta racikan minuman yang diresapi dengan cita rasa lokal, seperti kelapa dan gula aren.Meski rencana perdamaian di Gaza meningkat, pergeseran pola konsumen ke produk lokal disebut bakal bertahan lama."Perubahan ini bersifat permanen,” kata pendiri Viewfinder Global Affairs, sebuah perusahaan konsultan geopolitik yang melacak tren di seluruh Asia Tenggara, Adib Zalkapli."Politik atau lebih spesifiknya peristiwa di Palestina, jelas merupakan faktor utama yang mendorong konsumen beralih ke merek alternatif. Palestina adalah isu kebijakan luar negeri terpenting dalam politik Malaysia," sambungnya.
(prf/ega)
Boikot McDonald’s Menguat, Malaysia Kini Punya Raksasa Ayam Goreng Lokal
2026-01-12 04:41:36
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:07
| 2026-01-12 04:05
| 2026-01-12 03:49
| 2026-01-12 03:19
| 2026-01-12 03:19










































