JAKARTA, - Maraknya penyebaran informasi kesehatan yang tidak akurat di internet masih menjadi tantangan serius dalam upaya pengobatan kanker sejak dini di Indonesia. Kondisi ini dinilai berisiko karena membuat kanker baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut.Chairman Eka Tjipta Widjaja Cancer Center Eka Hospital, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk., M.Epid., MARS mengatakan, peran media dan arus informasi digital sangat memengaruhi cara pandang pasien terhadap penyakit kanker dan pilihan pengobatannya.Baca juga: 6 Alasan Mengapa Skrining Kanker di Indonesia Masih Rendah“Peran media juga sangat memengaruhi persepsi pasien. Sekarang masih banyak orang yang mudah terkecoh dengan berita hoax yang beredar di internet,” jelas dr. Sonar dalam Talkshow “Pendekatan Terpadu dalam Onkologi: Adaptasi Teknologi, Kolaborasi, Multidisiplin, dan Protokol Rujukan di Eka Hospital Group”, di Jakarta Pusat, Rabu .Ia mengungkap, salah satu bentuk hoaks yang paling sering ditemui adalah klaim pengobatan kanker hanya dengan mengonsumsi ramuan tertentu atau metode non-medis lainnya. Informasi tersebut kerap dikemas secara meyakinkan sehingga menarik perhatian pasien dan keluarganya.“Misalnya ada berita yang bilang kalau kanker bisa diobati dengan minum ramuan tertentu, akhirnya pasien terdistraksi dan ingin ikutan coba,” ujarnya.Klaim semacam ini, lanjut dia, membuat pasien mengalihkan fokus dari pengobatan medis yang seharusnya dijalani sejak awal.Dampak lanjutan dari kepercayaan terhadap berita hoaks adalah keputusan pasien untuk menunda bahkan membatalkan tindakan medis yang telah direncanakan bersama dokter. Padahal, pengobatan kanker sering kali membutuhkan penanganan segera agar hasilnya lebih optimal.“Alhasil yang seharusnya pasien ikut operasi atau menjalani pengobatan kanker malah tidak jadi karena tergiur berita hoax,” kata dr. Sonar.Baca juga: Tekan Angka Kematian Kanker, Kalbe Kembangkan Produksi Radioisotop dan Radiofarmaka di Sidoarjo Penundaan ini membuat waktu emas untuk pengobatan menjadi terlewat, sehingga kondisi penyakit semakin sulit ditangani.Selain faktor hoaks, dr. Sonar menilai ketakutan pasien terhadap prosedur medis juga memperbesar pengaruh informasi keliru. Banyak pasien sudah merasa takut hanya dengan membayangkan operasi atau terapi kanker.“Pasien membayangkan operasi atau menjalankan pengobatan kanker saja sudah takut, meskipun dokter juga sudah menjelaskannya,” ujar dr. Sonar.
(prf/ega)
Dokter Ungkap Dampak Berita Hoaks terhadap Keterlambatan Pengobatan Kanker
2026-01-12 08:13:59
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 08:16
| 2026-01-12 07:33
| 2026-01-12 07:32
| 2026-01-12 07:05
| 2026-01-12 06:31










































