AHY Kenang 2 Tahun 'Cikeas Gelap' Usai Kepergian Ani Yudhoyono-SBY Bangkit

2026-02-07 08:20:00
AHY Kenang 2 Tahun 'Cikeas Gelap' Usai Kepergian Ani Yudhoyono-SBY Bangkit
Putra sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengenang masa kelam yang dialami keluarganya setelah kepergian sang ibunda, Ani Yudhoyono. AHY menyebut masa tersebut sebagai dua tahun Cikeas gelap.Hal itu disampaikan AHY dalam sambutannya dalam peluncuran buku The Mentor: 9 Purnama di Sisi SBY karya Merry Riana, di Jakarta, Senin . Dalam kesempatan itu, AHY menyinggung sisi-sisi pribadi sang ayah yang dituangkan dalam buku tersebut, terutama tentang cinta, kesetiaan, dan keseimbangan hidup."Happiness is something to fight for. It's not given. Kebahagiaan itu harus diperjuangkan. Jangan berharap orang lain membuat kita bahagia, nanti kita bisa kecewa. Pak SBY pandai menata hati," kata AHY.Menurut AHY, ayahnya merupakan sosok yang mampu menemukan sumber kebahagiaan baru bahkan di tengah kehilangan mendalam. Ia menilai SBY berhasil menjalani healing setelah kehilangan belahan jiwanya, Ani Yudhoyono."Purna tugas juga tetap bisa mendapatkan sumber-sumber kebahagiaan, bahkan setelah ditinggal belahan jiwanya, healing after a great loss," ucapnya.Namun, AHY tak menampik bahwa kepergian ibundanya meninggalkan duka yang sangat dalam bagi keluarga. Rumah mereka di Cikeas yang dulu ramai dan menjadi pusat kegiatan politik nasional, mendadak terasa sunyi dan kehilangan energi."Kami menjadi saksi dua tahun gelap, Cikeas gelap, seperti hilang auranya. Dulu menjadi salah satu pusat kekuatan politik di Indonesia. Dua tahun itu gelap rasanya. Kami semua terpukul, tapi lebih sedih melihat Pak SBY yang begitu terpukul," tuturnya.Meski demikian, AHY bersyukur karena sang ayah mampu bangkit dan menyalurkan kesedihannya melalui berbagai karya kreatif. Seperti melukis, menulis puisi hingga menciptakan lagu."Tapi Tuhan kembali menuntun, dan beliau pas untuk menata hati, melalui itu semua, dan bukan hanya bisa melewati masa-masa sedih, dan bukan hanya bangkit, beliau bisa berlakukan transformasi yang tidak banyak dilakukan, yang tidak banyak bisa dilakukan oleh orang lain," tuturnya."Beliau kemudian menjadi seorang seniman, menjadi seorang pelukis, menjadi seorang pembuku puisi, membuat puisi, membuat lagu, berkreasi, membuat tim bola LavAni. Alhamdulillah juara, sudah empat kali juara, selalu" ungkap AHY.Lebih lanjut AHY menyampaikan, banyak orang menilai bahwa apa pun yang disentuh oleh SBY selalu berujung keberhasilan. Namun, ia mengingatkan agar publik tidak hanya melihat hasil akhir, melainkan juga proses panjang yang tentunya tak mudah."Orang sering berkata, 'setiap disentuh Pak SBY kok jadi?' Tapi jangan hanya melihat hasilnya. Di balik itu semua ada proses panjang, kerja keras, jatuh bangun yang tidak mudah," pungkasnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-07 08:05