Pramono Pastikan Pengganti Uus Kuswanto sebagai Wali Kota Jakarta Barat Diumumkan Besok

2026-01-16 10:43:48
Pramono Pastikan Pengganti Uus Kuswanto sebagai Wali Kota Jakarta Barat Diumumkan Besok
JAKARTA, — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan posisi Wali Kota Jakarta Barat yang ditinggalkan Uus Kuswanto tidak akan dibiarkan kosong. Nama pelaksana tugas (Plt) serta calon pengganti definitif akan diumumkan pada Selasa .Kepastian itu disampaikan Pramono setelah melantik Uus Kuswanto sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta di Balai Kota, Senin .“Karena Pak Uus telah dilantik sebagai Sekda, Wali Kota Jakarta Barat tentunya segera harus diisi. Nama-nama akan segera kami sebutkan segera. Plt-nya pasti besok sudah ada. Nanti akan kami umumkan,” ujar Pramono.Baca juga: Pramono Jelaskan Alasan Proses Seleksi Sekda DKI Tidak Dibuat HebohPramono menegaskan, Pemprov DKI telah menyiapkan nama pejabat yang akan mengisi posisi Plt Wali Kota Jakarta Barat dan langsung bekerja setelah pengumuman resmi disampaikan.Menurut dia, pengisian posisi strategis tersebut harus dilakukan tanpa jeda demi menjamin keberlanjutan layanan pemerintahan.Pelantikan Uus sebagai Sekda dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 184/TPA Tahun 2025 yang terbit pada 21 November. Uus menggantikan Marullah Matali yang telah mengabdi selama 29 tahun di lingkungan Pemprov DKI.Dalam kesempatan yang sama, Pramono kembali menepis anggapan bahwa penunjukan Uus sebagai Sekda dipengaruhi lobi atau intervensi pihak tertentu.“Tidak ada sama sekali lobi yang bisa memengaruhi keputusan saya. Maka, ketika sudah memutuskan menominasikan utama Pak Uus, tentunya itu adalah bagian dari tanggung jawab saya,” kata dia.Baca juga: Tunjuk Uus Kuswanto Jadi Sekda DKI, Pramono: Tidak Ada Lobi yang Pengaruhi Keputusan SayaPramono menegaskan, seluruh proses seleksi dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku. Ia bahkan menyebut baru bertemu langsung dengan Uus setelah pelantikan.“Jadi saya baru ketemu ini tadi dengan Pak Uus. Itulah bagian dari profesionalisme yang saya junjung tinggi,” ujar Pramono.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-16 09:00