PAMEKASAN, - Setiap hari, Imam Hambali (43) tidak kenal lelah menunggangi kuda besinya mengais rezeki. Sudah selama 16 tahun, dia bergelut dengan order makanan, pengantaran, dan penjemputan pelanggan menjadi driver ojek online (ojol).Jaketnya hijau dan terlihat baru, helm nya pun masih bagus. Bahkan, sepeda motornya cukup bersih. Namun, bukan berarti dia pengemudi ojol baru."Bukan berarti saya orang baru. Tapi ini sudah berganti seragam kesekian kalinya. Demi performa dan pelayanan terbaik ke pelanggan," tuturnya sambil tersenyum saat berbincang dengan Kompas.com, Minggu sore.Suara dering gadget seperti sudah bersahabat. Sesaat alat komunikasi itu berbunyi, dia pun bergegas langsung mengecek aplikasi.Baca juga: Curhat Driver Ojol di Denpasar, Menata Hidup Pakai Aplikasi Hambali memilih menjadi driver ojol bukan tanpa alasan. Tentu untuk menopang kebutuhan hidup."Awalnya saya coba-coba. Tapi ternyata bisa menopang kebutuhan hidup, akhirnya berlanjut sampai sekarang," katanya.Saat itu, dia ingin menyelesaikan biaya pendidikannya di salah satu perguruan tinggi. Akhirnya terbantu dari hasil menjadi pengemudi ojol.Berselang, beberapa tahun, Hambali menikah hingga punya anak. Sejak itu, pekerjaan driver online menjadi pendapatan utama untuk menghidupi keluarganya."Sampai saya punya dua anak, pendapatannya dari driver ojol. Sembari di pagi hari, saya jadi honorer di sekolah swasta," ujarnya.Baca juga: Kisah Ibu Nia, Driver Ojol yang Mengubur Gelar Sarjana demi AnakHambali bercerita, suka duka sebagai driver ojol cukup banyak dialaminya. Salah satunya, akun tidak bertanggung jawab mengorder makanan dan lokasinya di tengah kuburan.Saat itu, malam hari dia menerima order makanan cash and delivery (COD). Setelah tiba di lokasi sepi, titik pengorder ada di tengah pemakaman."Saya sudah beli makanan sesuai pesanan. Setelah diantar lokasinya gelap dan ternyata di tengah kuburan dan cukup jauh dari rumah warga. Tapi saya sempat menunggu," katanya.Di lain kesempatan, dia juga menerima pesanan makanan fiktif. Pengorder memesan terang bulan dan martabak senilai Rp 1.000.000. Namun, setelah diantar ke lokasi sesuai di aplikasi, pemesannya tidak ada.Setelah beberapa jam pemesan tidak ditemukan, akhirnya makanan dibawa kembali ke tempat mangkal."Saat itu akhirnya makanan dibagi antar ojol. Sementara uang diajukan dan diklaimkan ke penyedia jasa aplikasi ojol," ujarnya.Baca juga: WNA Perempuan Tantrum Pukul Ojol Usai Tabrak Dua Mahasiswa hingga Tewas di Kalibanteng Semarang
(prf/ega)
Kisah Hambali, Driver Ojol Antar Makanan ke Tengah Kuburan Hingga Orderan Fiktif Rp 1 Juta
2026-01-12 04:39:36
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:19
| 2026-01-12 05:07
| 2026-01-12 04:10
| 2026-01-12 03:32










































