Kampung Kebon Melati, Oase Hijau yang Bertahan di Tengah Pusat Bisnis Jakarta

2026-01-12 06:32:53
Kampung Kebon Melati, Oase Hijau yang Bertahan di Tengah Pusat Bisnis Jakarta
JAKARTA, – Di tengah kepungan gedung pencakar langit kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Kampung Kebon Melati, justru bertahan sebagai permukiman yang rapi, hijau, dan relatif nyaman.Di saat kawasan sekitarnya tumbuh menjadi pusat bisnis modern, kampung ini berkembang lewat cara yang berbeda: gotong royong warga yang konsisten selama bertahun-tahun.Bukan karena proyek besar pemerintah, melainkan berkat kesadaran kolektif warga yang menjaga lingkungannya dari hari ke hari.Minimnya bantuan dan empati dari pemerintah justru menjadi pemicu warga untuk berdiri di atas kaki sendiri.Baca juga: Kelola 40 Kg Sampah Per Hari, Warga Kebon Melati Bangun Sistem Lingkungan Mandiri“Saya jujur merasa empati pemerintah itu kurang. Mereka kerja berdasarkan target,” ujar Ketua RW 06 Kebon Melati, Yudha Praja, saat ditemui Kompas.com, Rabu .Menurut Yudha, selama lebih dari satu dekade mengurus RW 06, hampir tidak ada dukungan nyata yang benar-benar menyentuh upaya warga menjaga lingkungan.“Belum pernah ada sebenarnya, dan enggak perlu tahu juga. Kecamatan aja jarang turun, apalagi dari SDA atau kabupaten,” kata Yudha.Ketertiban Kampung Kebon Melati tidak terbentuk secara instan. Yudha menyebutkan, perubahan dimulai dari hal sederhana, yakni membangun kebiasaan.“Sosialisasi saja tidak cukup. Saya harus jadi contoh. Setiap pagi saya nyapu,” ujar Yudha.Ia meminta warga minimal menyapu halaman rumah masing-masing setiap hari.“Jam 09.00 WIB pagi biasanya sudah rapi semua,” tutur dia.Kebiasaan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Pada awal penerapannya, masih ada warga yang membuang sampah sembarangan atau enggan mengikuti aturan bersama.Anak-anak yang membuang sampah sembarangan ditegur. Namun, Yudha justru melihat anak-anak sebagai kunci perubahan jangka panjang.“Justru dari anak-anak ini kami harap kebiasaan baik itu tumbuh,” kata dia.Dari rutinitas menyapu pagi hari itu, tumbuh rasa memiliki terhadap lingkungan. Gang-gang sempit menjadi bersih, tanaman terawat, dan ruang bersama hidup oleh aktivitas warga.Baca juga: Cerita dari Kampung Kebon Melati di Jantung Thamrin, Ruang Hijau Tanpa CSR/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Suasana RW 06 Kampung Kebon Melati yang asri dan sejuk meski diapit gedung tinggi kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.Menjaga lingkungan di tengah tekanan pembangunan bukan perkara mudah. Menurut Yudha, tantangan terberat bukan hanya persoalan fisik, melainkan menjaga konsistensi warga.“Ini harus dijadikan habit. Kalau berhenti, ya kembali lagi ke kebiasaan lama,” ujar dia.Untuk menjaga kedekatan, Yudha kerap turun langsung ke rumah-rumah warga, sekadar ngopi dan berbincang.“Saya sering ngopi ke rumah warga. Satu rumah satu kopi, sampai tujuh gelas sehari. Tapi dari situ hubungan jadi cair,” kata Yudha.Kedekatan tersebut membuat warga tidak sungkan menyampaikan persoalan. Saat pandemi Covid-19, solidaritas warga terasa kuat.Warga yang sakit dibantu bersama, termasuk anak-anak kos yang tidak bisa pulang kampung.“Padahal mereka bukan warga asli sini,” ujar Yudha.Keamanan lingkungan pun relatif terjaga.“Motor parkir di luar tiap malam, jarang kejadian (pencurian),” katanya.Menurut Yudha, Tanah Abang bukan wilayah rawan kriminal, melainkan rawan keributan. Karena itu, peran pengurus lingkungan menjadi sangat penting.


(prf/ega)