Pakubuwono XIII Meninggal, Kenapa Gusti Bhre Tidak Jadi Raja Keraton Solo?

2026-02-05 02:04:54
Pakubuwono XIII Meninggal, Kenapa Gusti Bhre Tidak Jadi Raja Keraton Solo?
- Sebagian warganet di media sosial Instagram belum memahami perbedaan antara Keraton Kasunanan Surakarta dengan Pura Mangkunegaran yang sama-sama berada di wilayah Kota Solo, Jawa Tengah.Kebingungan tersebut membuat beberapa warganet mempertanyakan alasan mengapa Pemimpin Pura Mangkunegaran, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo, tidak menjadi Raja Keraton Solo.Pertanyaan itu muncul setelah wafatnya Pakubuwono XIII pada Minggu yang selama ini memimpin Keraton Kasunanan Surakarta.Untuk meneruskan kepemimpinan keraton, KGPAA Hamengkunegoro yang akrab disapa Gusti Purboyo naik takhta menjadi Pakubuwono XIV.Lalu, kenapa Gusti Bhre tidak menjadi Pakubuwono?Baca juga: Sejarah Masjid Pajimatan Imogiri, Saksi Pemakaman Raja Pakubuwono XIII, Berusia Ratusan TahunGuru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Prof Warto menjelaskan bahwa Gusti Bhre yang bergelar Mangkunegara X bukan raja dalam pengertian seperti Sunan atau Sultan dalam perspektif sejarah.Namun, Gusti Bhre merupakan Pangeran Miji atau pangeran mandiri dan berwenang memakai gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara.“Beliau tidak diperkenan duduk di dhampar kencana seperti layaknya raja, tidak boleh punya alun-alun dan beringin kurung, dan lain-lain,” ujar Prof Warto dikutip dari Kompas.com, Kamis .“Mengingat sejarahnya seperti itu, ya jelas Mangkunegara bukan raja tapi Pangeran Miji, pangeran yang diberi otonomi khusus atau mandiri di wilayah keraton Kasunanan,” tambahnya.Ia menjelaskan, setelah Indonesia menyatakan kemerdekaan, kedudukan Mangkunegaran mengalami perubahan sehingga menjadi bagian dari wilayah republik.Baca juga: Profil Gusti Purboyo, Putra Mahkota Keraton Solo yang Nyatakan Naik Takhta Jadi Pakubuwono XIVItu artinya, wilayah Kadipaten Mangkunegaran tidak ada lagi dan Mangkunegara selaku pimpinan bertindak sebagai penjaga tradisi atau penguasa adat maupun budaya.“Bukan lagi sebagai penguasa yang mempunyai kekuasaan memerintah dan punya wilayah seperti sebelum kemerdekaan,” jelas Warto.Eks Dekan FIB tersebut menambahkan, Mangkunegaran tetap menjadi aset bangsa yang penting karena menjadi salah satu pusat dan sumber kebudayaan Jawa.Bukan hanya menjadi destinasi wisata, tapi menjadi pusat ilmu pengetahuan terutama budaya Jawa yang tinggi nilainya.“Tugas Gusti sekarang menjadi penjaga gawang berlanjutnya tradisi Jawa yang agung itu, bukan sekedar merawat dan melestarikan tapi mengaktualisasikan seluruh aset budaya itu sesuai perkembangan zaman sehingga bermanfaat bagi bangsa Indonesia dan dunia,” pungkasnya.Baca juga: Cerita Satgassus Keraton Solo Begadang Kawal Prosesi Pemakaman Pakubuwono XIII


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Hans Patuwo bukan sosok baru di lingkungan GoTo. Ia telah bekerja hampir delapan tahun di ekosistem Gojek, GoPay, dan GoTo. Ia bergabung dengan Gojek pada 2018 sebagai Chief Operating Officer, dengan fokus pada penguatan operasional dan ekosistem mitra driver.Pada 2021, Hans dipercaya memimpin unit bisnis yang kemudian berkembang menjadi GoTo Financial. Di posisi tersebut, ia mengawasi peluncuran layanan pinjaman dan pengembangan aplikasi GoPay, yang kini menjadi salah satu platform fintech terbesar di Indonesia.Baca juga: KPPU Denda TikTok Rp 15 Miliar Karena Telat Lapor Akuisisi TokopediaAwal 2024, Hans ditunjuk sebagai Chief Operating Officer GoTo dan bertanggung jawab atas strategi grup serta proyek migrasi cloud perusahaan. Perannya kembali diperluas pada Juli 2025, ketika ia dipercaya sebagai Presiden On-Demand Services.Sebelum bergabung dengan Gojek, Hans memiliki pengalaman internasional dengan bekerja di Amerika Serikat, China, dan Singapura. Ia juga pernah menjabat sebagai Partner di firma konsultan manajemen global McKinsey.YouTube.com/Gojek Goto, layanan Gojek dan Tokopedia.Penunjukan CEO baru ini terjadi di tengah sorotan pasar terhadap arah strategis perusahaan hasil merger antara Gojek dan Tokopedia itu.Berdasarkan laporan Bloomberg, saham GoTo tercatat naik sekitar 20 persen sepanjang kuartal ini di Bursa Efek Indonesia, mengungguli kinerja sejumlah perusahaan ride-hailing dan pengantaran global.Kenaikan saham tersebut terjadi menjelang Rapat Umum Pemegang Saham yang menjadi momen penting bagi arah strategis perusahaan, termasuk persetujuan pengangkatan Hans Patuwo sebagai CEO baru.Meski saham GoTo menguat, valuasi perusahaan masih jauh dari masa awal IPO. Kapitalisasi pasar GoTo kini berada di bawah 5 miliar dollar AS, turun drastis dari puncaknya yang sempat menembus 30 miliar dollar AS pada 2022.

| 2026-02-05 00:49