Indonesia Terinspirasi Program China, Transmigrasi Bukan Sekadar Pindah

2026-01-12 13:55:30
Indonesia Terinspirasi Program China, Transmigrasi Bukan Sekadar Pindah
JAKARTA, - Menteri Transmigrasi Republik Indonesia Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyampaikan bahwa pengalaman berharga China dalam memanfaatkan transmigrasi untuk menangani kemiskinan patut diteladani oleh Indonesia. Hal tersebut disampaikan Iftitah dalam wawancara eksklusif dengan reporter Xinhua baru-baru ini.Indonesia berharap dapat memperkuat kerja sama dengan China untuk mewujudkan pembangunan bersama demi kemakmuran rakyat kedua bangsa.Baca juga: Transmigrasi Bisa Bikin Anak Muda Jadi Konglomerat, Bagaimana Caranya?Pada Oktober 2025, dalam kunjungan kerja ke China, Iftitah menyaksikan bagaimana program transmigrasi di negara tersebut bertransformasi dari sekadar perpindahan penduduk menjadi bagian dari program besar pengentasan kemiskinan. Kunjungan itu juga membangkitkan semangatnya untuk menepis anggapan umum soal kemiskinan. "Saya di-challenge oleh banyak orang, banyak pihak, kalau kemiskinan di Indonesia banyak itu wajar. Penduduknya besar, 285 juta. Di China, 1,4 miliar penduduk dan hampir zero kemiskinan absolutnya. Ada alasan apa lagi untuk bangsa Indonesia tidak bisa keluar dari kemiskinan? Itulah juga yang saya lihat semangatnya dari Bapak Presiden RI Prabowo Subianto, ingin Indonesia keluar dari kemiskinan ini. Tentu saja kalau saya melihat, kita harus membuka lebih banyak lapangan kerja." ungkapnya.Dalam percakapan di halaman rumah dinasnya itu, Iftitah sangat mengapresiasi bagaimana relokasi penduduk justru menjadi motor pengentasan kemiskinan ketika disinergikan dengan program lain. Dia menyimpulkan kunci kesuksesan China tersebut terletak pada perhatian terhadap pendidikan, penyesuaian dengan kondisi lokal, kepemimpinan yang kuat, serta semangat untuk terus berjuang. Baca juga: Akhirnya, 7.000 Bidang Tanah Kawasan Transmigrasi Sudah BersertifikatDia juga terkesan saat mengunjungi Desa Xujiachong dan Desa Guanzhuang di Yichang, Provinsi Hubei.Kedua desa itu terbentuk setelah transmigrasi lebih dari 1.3 juta penduduk untuk pembangunan Bendungan Tiga Ngarai, bendungan terbesar di seluruh dunia. Bendungan raksasa tersebut telah menghasilkan 100 miliar kWh listrik lebih per tahun dan berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional. Selain itu, para penduduk yang bertransmigrasi juga mengalami peningkatan pendapatan. "Mereka (para transmigran) mendapatkan bantuan-bantuan sesuai dengan potensi lokal. Yang saya lihat, misalkan, ada di sana itu komoditas jeruk. Ternyata setelah ada insentif dari pemerintah, produktivitas jeruk meningkat berkali-kali lipat. Bahkan dalam catatan saya, pendapatan petani jeruk di daerah Yichang itu hampir 3 kali lipat dari rata-rata nasionalnya," tutur Iftitah.Melalui upaya mandiri selama puluhan tahun yang didukung oleh bantuan pemerintah setempat dan berbagai kalangan masyarakat, kedua desa tersebut berhasil mengembangkan potensi lokal mereka.Baca juga: Menteri Iftitah Kritik Pemda Ada yang Usulkan Kawasan Transmigrasi Hanya agar Dapat InsentifPemerintah China memberikan dukungan komprehensif melalui program pelatihan, transfer teknologi, dan kolaborasi antara transmigran dan warga lokal. Sementara itu di Desa Xujiachong, pendampingan pemerintah China meningkatkan pendapatan masyarakat hingga delapan kali lipat dibandingkan masa awal mereka menetap. Aktivitas ekonomi di Xujiachong tidak hanya berfokus pada sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan, tetapi juga telah merambah ke bidang industrialisasi rumah tangga.Iftitah juga melihat adanya kemiripan strategi dalam pembangunan kawasan transmigrasi di kedua negara. Keduanya menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur untuk pengentasan kemiskinan. Di China dikenal ungkapan yang berbunyi untuk menjadi makmur, bangunlah jalan terlebih dahulu, dan dia mengatakan harus memusatkan sumber daya pada pengembangan infrastruktur di beberapa daerah percontohan, dan kemudian mendorong pembangunan di daerah sekitarnya.Baca juga: Kuliah Umum di Unhan, Mentrans Iftitah: Transmigrasi Strategi Bangun Ketahanan NasionalHal serupa diterapkan Indonesia di kawasan transmigrasi Halmahera Utara. "Semula untuk membawa kelapa dari satu titik ke pelabuhan butuh 8 jam. Sekarang dengan jalan yang lebih bagus, hanya 1 sampai 2 jam," paparnya. Infrastruktur terbukti meningkatkan produktivitas dengan menekan biaya.


(prf/ega)