Negara, Citra, dan Hiperrealitas Perang Narkoba

2026-01-11 23:35:51
Negara, Citra, dan Hiperrealitas Perang Narkoba
PEMERINTAH dan Kepolisian Republik Indonesia memusnahkan lebih dari 214 ton narkotika hasil pengungkapan selama setahun terakhir.Data hingga Oktober 2025 mencatat 38.934 kasus, 51.763 tersangka, dan barang bukti mencapai 197,7 ton berbagai jenis narkotika.Nilai ekonominya menembus Rp 29 triliun — angka yang menggambarkan skala ancaman luar biasa, sekaligus skala ekonomi gelap yang merasuki kehidupan sosial kita.Namun, angka besar itu bukan hanya tanda keberhasilan, tetapi juga cermin dari kedalaman masalah. Pemusnahan ton-ton narkoba adalah simbol kemenangan negara, tetapi simbol saja tidak cukup.Di balik asap yang menjulang dan tepuk tangan publik, pertanyaan mendasar tetap muncul: apakah struktur sosial dan habitus masyarakat benar-benar berubah?Dalam kerangka Pierre Bourdieu (1977), habitus adalah pola pikir dan tindakan yang terbentuk oleh pengalaman sosial.Ia menjadi cara individu memahami dunia dan bereaksi terhadapnya. Sementara modal sosial adalah jaringan kepercayaan dan relasi yang menopang tindakan sosial.Jaringan narkoba tumbuh dalam ruang sosial dengan habitus tersendiri — di mana konsumsi narkoba bisa dianggap wajar, menjadi bagian dari identitas kelompok, atau bahkan pelarian dari tekanan ekonomi dan psikologis.Di sana, narkoba bukan sekadar zat, melainkan mekanisme bertahan hidup dalam struktur yang timpang.Namun, negara juga memiliki habitusnya sendiri: budaya penegakan hukum, struktur kekuasaan, hubungan antarinstansi, serta cara membangun citra di hadapan publik.Baca juga: Projo di antara Kultus Jokowi dan Kekuasaan PrabowoKetika negara memusnahkan ratusan ton narkoba, itu bukan hanya tindakan hukum, tapi juga tindakan simbolik — representasi tentang kekuasaan, kontrol, dan legitimasi moral.Masalahnya, penindakan yang keras tidak otomatis mengubah habitus sosial. Jika masyarakat tetap hidup dalam ketimpangan, stigma, dan keterbatasan ekonomi, maka regenerasi jaringan hanya persoalan waktu.Di ruang sosial seperti itu, habitus pengguna terus bertumbuh, dan modal sosial jaringan tetap subur.Jean Baudrillard (1981) menyebut, simulakra adalah citra yang menutupi kenyataan bahwa realitas mungkin sudah hilang.Dalam konteks ini, pemusnahan massal narkoba bisa menjadi simulasi kemenangan — menciptakan hiperrealitas perang narkoba: gambaran besar bahwa negara menang, padahal akar sosial dan kultural masalah tetap hidup.


(prf/ega)