Kepala BNPT Ungkap Ada 112 Anak Terpapar Radikalisme Sepanjang 2025

2026-01-12 03:55:04
Kepala BNPT Ungkap Ada 112 Anak Terpapar Radikalisme Sepanjang 2025
JAKARTA, - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono, mengungkap, sebanyak 112 anak terpapar paham radikalisme sepanjang 2025.Eddy mengatakan, anak-anak tersebut berusia 10 hingga 17 tahun dan terpapar melalui media sosial maupun permainan daring (game online). Para korban tersebar di 26 provinsi di Indonesia.“Sepanjang tahun 2025, ya, aparat penegak hukum, Densus 88 sudah menangkap beberapa jaringan terorisme maupun simpatisan Ansharut Daulah yang berkiblat kepada ISIS, dan juga 112 anak yang teradikalisasi di sosial media,” kata Eddy di Hotel Pullman Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa .Baca juga: Kepala BNPT: Terorisme Indonesia Masuk Situasi Waspada TerkendaliDalam hal ini, Eddy menjelaskan bahwa proses radikalisasi terhadap anak dan remaja jauh lebih efektif setelah memanfaatkan media sosial dibandingkan dengan periode sebelum penggunaan media sosial.“Ya, dibandingkan dulu ketika proses radikalisasi secara konvensional itu membutuhkan waktu 2 sampai 5 tahun. Ya, sekarang dengan media online atau ruang digital, itu hanya butuh waktu 3 sampai 6 bulan,” ungkap dia.Ia mengungkapkan, proses tersebut diawali dari pola interaksi anak di media sosial, seperti memberikan tanda suka (like), membagikan konten (share), hingga durasi menonton (watch time).Pola keterlibatan ini kemudian dibaca oleh algoritma media sosial yang secara otomatis membentuk rekomendasi konten serupa sesuai dengan kebiasaan akses pengguna.Baca juga: Temuan BNPT 3 Tahun Terakhir: 27 Perencanaan Serangan, 230 Orang Ditangkap, dan 362 Diadili“Contohnya begini, ketika dia mengakses kejadian perang Suriah atau perang Irak. Terus, misalkan di YouTube, nanti semakin dia sering mengakses, ya, itu akan terpolakan, akan terbentuk,” jelas dia.Selain media sosial, Eddy menyebut radikalisasi juga terjadi melalui permainan daring.Ia menjelaskan bahwa game online memiliki fitur private chat dan voice chat yang kerap dimanfaatkan pelaku dengan metode yang dalam psikologi dikenal sebagai digital grooming.Tahapannya dimulai dari membangun kepercayaan, menciptakan kedekatan emosional, hingga menyamakan minat dan hobi.“Nah, ketika sudah dapat grooming-nya, maksudnya kelompoknya di situ, baru ditarik isolasi ke luar. Masuk ke dalam grup sosial media, baik itu Instagram maupun WhatsApp. Nah, di situlah baru dimainkan, namanya normalisasi perilaku,” ucap dia.Baca juga: BNPT Tegaskan Aparat Bisa Tangkap Terduga Teroris meski Bom Belum Dirakit“Artinya apa? Didoktrin. Didoktrin tentang karena ini dia kiblatnya ke ISIS, didoktrin tentang nilai-nilai ISIS. Contohnya tentang buku Buku Muqarrar Fi Tauhid. Ya, di situ diajarkan bagaimana bahwa demokrasi itu haram. Bahwa aparat itu thogut,” sambungnya.Namun sebelum sampai ke tahap eksploitasi, Eddy menyebut, aparat telah bergerak dan menjangkau korban anak ini.Menurut dia, pada fase persiapan, sebagian dari mereka bahkan telah menerima doktrin dan menunjukkan kesiapan untuk melakukan aksi penyerangan secara sukarela.


(prf/ega)