Tiga Pekan Pascabanjir Tapteng, Anak-anak Penyintas Banjir Terserang Gatal-gatal hingga ISPA

2026-01-13 09:23:53
Tiga Pekan Pascabanjir Tapteng, Anak-anak Penyintas Banjir Terserang Gatal-gatal hingga ISPA
– Tiga pekan pascabanjir dan longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, dampak bencana masih dirasakan para penyintas, terutama anak-anak.Sejumlah orangtua mengeluhkan anak mereka terserang penyakit gatal-gatal, batuk pilek (bapil), demam, hingga diare.Keluhan tersebut dialami anak-anak penyintas banjir, baik yang masih tinggal di lokasi pengungsian maupun yang telah kembali ke permukiman warga.Minimnya air bersih, kondisi lingkungan berlumpur, serta keterbatasan makanan bergizi diduga memperparah kondisi kesehatan anak-anak.Baca juga: Kisah Arman Zebua, Selamatkan 52 Nyawa dari Jebakan Longsor-Banjir di Hutan Tapanuli TengahSalah satu penyintas banjir, Kiara Ritonga (1,5), mengalami gatal-gatal hampir di seluruh bagian kakinya. Benjolan kecil berisi air tampak memenuhi kulitnya, disertai batuk dan pilek.Ibunya, Iin Sihombing (29), mengaku khawatir karena kondisi anaknya tak kunjung membaik meski sudah sempat berobat.“Inilah gatal-gatal sama bapil. Tapi sudah parah kali gatal-gatal di kaki anakku ini. Jadi nangis terus, rewel. Inilah mau dibawa berobat. Kemarin sudah berobat tapi enggak mempan juga,” ujar Iin, warga Jalan Simpang Fransiskus, Kabupaten Tapanuli Tengah.Iin mengatakan, gatal-gatal tersebut baru dialami anaknya dalam tiga hari terakhir. Rumah mereka sempat terendam banjir sehingga kesulitan mendapatkan air bersih.“Kayaknya alergi air. Karena sulit dapat air bersih. Rumah kami banjir, walaupun tidak terlalu parah. Kami juga sempat mengungsi sehari di gereja,” katanya.Keluhan serupa juga dialami Syarifah, warga Kelurahan Sibuluan Indah, Kecamatan Pandan. Anak Syarifah yang berusia 4 tahun sudah seminggu terakhir mengalami gatal-gatal.“Sudah seminggu ini gatal-gatal. Kami masih mengungsi di Masjid Al-Musannif Syariful Hasanah sampai hari ini,” ujarnya.Baca juga: Update Pencarian Korban Banjir Tapanuli Tengah: 45 Masih Hilang, Banyak Jalan Desa PutusMenurut Syarifah, keterbatasan makanan selama mengungsi turut memengaruhi kondisi kesehatan anaknya.“Selama tiga minggu ini cuma makan mi dan telur. Anak saya alergi mi dan telur, tapi cuma itu makanan yang ada,” katanya.Ia berencana membawa anaknya berobat ke posko kesehatan di GOR Pandan yang menyediakan layanan pengobatan gratis.Dokumentasi pribadi Bina Tumpukan kayu dan lumpur terlihat masih menutup jalan di Lingkungan I, Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa .Kondisi serupa juga dialami anak-anak penyintas banjir di Posko Pengungsian Simpang, Kelurahan Sipange-Hutanabolon. Hampir seluruh anak di posko tersebut mengalami bapil dan gatal-gatal.


(prf/ega)