Kebijakan Pemerintah Bisa Jadi Sumber Stres? Psikolog Jelaskan Cara Kelolanya

2026-01-12 03:49:23
Kebijakan Pemerintah Bisa Jadi Sumber Stres? Psikolog Jelaskan Cara Kelolanya
– Prof. Dr. Christin Wibhowo, S.Psi., M.Si., Psikolog membenarkan kebijakan publik oleh pemerintah, dinamika politik, hingga peristiwa sosial dan bencana alam bisa saja memicu tekanan psikologis di masyarakat.Meski begitu, Guru Besar Fakultas Psikologi UNIKA Soegijapranata itu menyebut, tekanan tersebut tidak selalu akan berdampak negatif, selama individu mampu mengelolanya dengan tepat.“Kebijakan publik, kebijakan pemerintah, atau apa pun yang terjadi di lingkungan kita pasti menjadi stresor bagi setiap orang. Namun, stresor itu belum tentu jelek, meski pasti memengaruhi,” ujar Christin saat dimintai pandangan Kompas.com, Minggu .Baca juga: Studi Baru: Stres Manusia Modern Setara dengan Stres Hadapi Seekor SingaIa menjelaskan, setiap generasi tumbuh dalam konteks sosial dan politik yang berbeda, sehingga respons terhadap stresor pun beragam.Generasi Baby Boomers misalnya, lahir dalam iklim politik yang berbeda dengan Generasi Alpha atau Beta saat ini.“Orang yang lahir di zaman Presiden Soeharto tentu berbeda pengalamannya dengan anak-anak yang lahir di zaman Presiden Jokowi. Iklim politik dan sosial itu membentuk cara kita memandang dunia,” kata dia.Christin menekankan bahwa stres terbagi menjadi dua jenis, yakni eustress dan distress.Eustress adalah stres yang justru mendorong seseorang untuk berkembang, sedangkan distress adalah stres yang membuat individu terpuruk.“Setiap kebijakan atau peristiwa pasti menjadi stresor. Tapi apakah itu menjadi eustress atau distress, sangat tergantung bagaimana masing-masing individu memaknainya,” ujar Christin.Ia memberi contoh sederhana dari dunia pendidikan. Ulangan di sekolah adalah stresor.Jika seorang siswa menganggapnya sebagai tantangan untuk belajar dan hasilnya membaik, maka stres tersebut bersifat eustress.Sebaliknya, jika stres itu membuat siswa memilih menghindar dan menyerah, maka itulah distress.Hal yang sama berlaku dalam menghadapi kondisi sosial saat ini, termasuk kebijakan pemerintah atau bencana alam.“Situasi sekarang tentu menjadi stresor bagi kita semua. Tapi kembali lagi, apakah itu menjadi tantangan atau justru membuat kita jatuh, tergantung cara kita menyikapinya,” kata dia.Baca juga: Mongol Stres Kehilangan Rp 53 Miliar usai Pinjami Cagub, Segini Bayaran Saat TampilChristin menyarankan agar stresor dapat diubah menjadi eustress dengan cara memfokuskan diri pada hal-hal yang masih bisa dikendalikan.


(prf/ega)

Berita Lainnya