Hutan Adat Wonosadi Gunungkidul, Dari 4 Pohon Kini Rimbun dan Menjadi Sumber Air

2026-01-12 04:17:55
Hutan Adat Wonosadi Gunungkidul, Dari 4 Pohon Kini Rimbun dan Menjadi Sumber Air
YOGYAKARTA, - Hutan Adat Wonosadi di Kapanewon Ngawen, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini lebat dan rimbun, dengan pohon-pohon menjulang tinggi yang membuat cahaya matahari jarang menyentuh tanah.Namun, siapa sangka, pada 1965–1966, hutan ini hanya menyisakan 4 pohon yang masih berdiri hingga kini, akibat penebangan liar oleh perambah yang menyebabkan banjir dan longsor."Rusaknya dari 1965-1966 ada gerakan yang tidak bertanggung jawab menebangi pohon. Banjir batu longsor krikil waktu gundul itu mas," kata Ketua Penjaga Hutan Adat Wonosadi, Sri Hartini, ditemui di Ngawen, Senin .Baca juga: Tembus Daerah Paling Telisolasi Banjir di Aceh Utara, Bupati Harus Pakai Mobil, Perahu dan MotorSri menceritakan, ayahnya, almarhum Sudiyo, mengalami masa sulit saat sumber mata air menghilang dan tumpukan kayu menimbulkan keresahan karena munculnya anjing misterius di malam hari."Sumber mata air kecil, dulu saat saya kecil hanya ada satu sendang (mata air) kalau mandi bergantian. Setelah Wonosadi hijau ini ya wis tinggal buka kran," ujar Sri.Kini, Hutan Adat Wonosadi memiliki tiga mata air—Alas, Pok Blembem, dan Sengon—yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, serta upacara keagamaan umat Hindu."Selain ada tumbuhan, kayu, obat-obatan, rerumputan, buah-buahan, dan mungkin banyak lagi yang lain. Ada tiga mata air, alas, pok blembem, dan sengon," tambah Sri.Berkat jerih payah Sudiyo, hutan seluas 25 hektar ini berhasil kembali rimbun dalam waktu dua dekade."Untuk menghijaukan Hutan Wonosadi berat sekali, karena tidak semua orang mau. Banyak yang mencemooh, sekarang bisa merasakan manfaatnya," ungkap Sri.Masyarakat sekitar kini tidak berani menebang atau mengambil kayu dari Hutan Adat Wonosadi, karena mitos serta kesadaran akan pentingnya kelestarian hutan bagi kehidupan dan kebutuhan air.Pohon-pohon dibiarkan berkembang, dan terus diperbaharui jika ada yang mati."Pohon yang dipuncak 4 buah itu karena sudah terlalu tua, dan sudah rapuh. Kami bekerjasama dengan pemerintah baik lingkungan hidup maupun pemerintah kalurahan menanam pohon baru menggantikan pohon yang sudah tua," jelas Sri.Selain aspek lingkungan, hutan ini memiliki nilai sejarah dan cerita rakyat.Hutan Wonosadi merupakan petilasan Kerajaan Majapahit, yakni tempat istri selir Brawijaya V, Roro Resmi, bersama dua anaknya, Kyai Onggoloco dan Gading Mas, tinggal dan mengajarkan pertanian serta sopan santun kepada masyarakat setempat."Bu Roro Resmi dan Kyai Onggoloco itu bersemedi di Wonosadi, dan Gading Mas di Gunung Gambar sebelahnya," kata Sri.


(prf/ega)