10 Alasan Orang Kaya Makin Kaya tetapi Kelas Menengah Tetap Pas-pasan

2026-01-11 15:24:55
10 Alasan Orang Kaya Makin Kaya tetapi Kelas Menengah Tetap Pas-pasan
- Kesenjangan antara orang kaya dan kelas menengah terus melebar, dan kecepatannya semakin tinggi.Sementara kelas menengah bekerja lebih keras dari sebelumnya, kaum kaya tampak menggandakan kekayaannya dengan mudah.Ini bukan soal moralitas atau etos kerja, melainkan soal matematika, ekonomi, dan bagaimana sistem keuangan secara struktural menguntungkan mereka yang sudah memiliki modal.Sistem ini tidak dirancang berdasarkan teori konspirasi, tetapi secara matematis memihak pada kepemilikan modal dibanding tenaga kerja.Baca juga: 5 Kebiasaan Keuangan yang Bikin Kelas Menengah Susah KayaBerikut ini 10 alasan mengapa orang kaya makin kaya dan kelas menengah tetap begitu-begitu saja, seperti dikutip dari Newtrader U:1. Bunga Berbunga: Kawan bagi Aset, Lawan bagi UtangKekuatan bunga berbunga (compound interest) adalah hukum dasar dalam dunia keuangan—dan bekerja ke arah yang berlawanan tergantung posisi kita.Bagi orang kaya, bunga berbunga memperbesar kekayaan mereka. Investasi di saham, properti, atau bisnis menghasilkan keuntungan yang terus berlipat. Misalnya, Rp1 miliar yang diinvestasikan dengan imbal hasil 8 persen per tahun bisa tumbuh berkali lipat dalam 20 tahun tanpa tambahan modal.Sebaliknya, bagi kelas menengah, bunga berbunga justru menjadi beban. Kredit kendaraan, cicilan kartu kredit, atau pinjaman konsumtif berarti membayar bunga atas bunga.Harga mobil yang dibeli kredit bisa jauh lebih mahal dari harga tunainya.Orang kaya paham prinsip ini—mereka tidak berutang untuk membeli aset yang nilainya turun, melainkan menggunakan utang untuk memperbesar aset yang memberi hasil.2. Sistem Pajak Lebih Berat ke Pekerja daripada Pemilik ModalStruktur pajak di banyak negara, lebih banyak memajaki penghasilan dari kerja, bukan penghasilan dari aset.Karyawan bergaji tetap harus membayar pajak setiap bulan dari gaji bruto mereka.Sebaliknya, mereka yang mendapatkan penghasilan dari capital gain, seperti penjualan saham atau properti, sering kali menikmati tarif pajak yang lebih rendah. Bahkan, selama aset itu belum dijual, kenaikan nilainya tidak dikenai pajak sama sekali.Artinya, seorang profesional dengan gaji Rp30 juta per bulan dipotong pajak rutin, sementara seseorang yang memiliki properti bernilai miliaran bisa melihat kekayaannya naik tanpa kewajiban pajak langsung.3. Aturan 4 persen vs Aturan 50 persenKemandirian finansial bekerja dengan rumus berbeda untuk setiap kelas ekonomi.Mereka yang punya modal besar bisa hidup dari hasil investasi—misalnya menarik 4 persen dari total asetnya per tahun tanpa menggerus pokok modal.Sementara bagi kelas menengah, kenyataannya berbeda. Setelah dikurangi pajak, cicilan rumah, biaya kesehatan, dan kebutuhan pokok, hanya sekitar 50 persen dari penghasilan bruto yang tersisa untuk hidup.Untuk mempertahankan gaya hidup setara dengan mereka yang hidup dari investasi, seseorang harus bekerja jauh lebih keras.4. Ketimpangan dalam Akses Utang dan Leverage


(prf/ega)