Warga Agam Krisis Air Usai Bencana, 30 Truk Tangki Polda Riau Meluncur ke Sumbar

2026-02-04 00:23:54
Warga Agam Krisis Air Usai Bencana, 30 Truk Tangki Polda Riau Meluncur ke Sumbar
PEKANBARU, – Kepolisian Daerah Riau kembali mengirimkan bantuan untuk korban bencana alam di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Bantuan tahap kelima ini berupa air bersih yang sangat dibutuhkan masyarakat setelah bencana.Irwasda Polda Riau Kombes Prabowo Santoso mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap masyarakat terdampak."Bantuan Kemanusiaan dari Polda Riau ini merupakan yang kelima. Hal ini menandakan bahwa Polda Riau selalu hadir dan siap membantu masyarakat khususnya korban terdampak bencana di Provinsi Sumbar," kata Prabowo kepada wartawan melalui keterangan tertulis, Selasa .Sebanyak 30 truk tangki air dikerahkan untuk membantu kebutuhan masyarakat. Truk tangki tersebut berasal dari Polda Riau, jajaran Polres, pihak swasta, dan Pemerintah Kabupaten Bengkalis.Baca juga: Korban Banjir di Sumbar Trauma Berat, Kepala Desa: Kami Bersyukur Ada Tim Trauma Healing Polda RiauSetiap truk memiliki kapasitas 4.000 liter hingga 28.000 liter. Bantuan mulai disalurkan pada Senin .Prabowo mengatakan bantuan air bersih diharapkan dapat mencegah terjadinya krisis air di wilayah terdampak. Bantuan juga dapat dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari."Mari kita doakan bersama agar bencana ini dapat diatasi dengan baik dan masyarakat dapat pulih dan kembali beraktivitas," kata Prabowo.Dirlantas Polda Riau Kombes Taufiq Lukman Nurhidayat mengatakan pengiriman truk air bersih dikawal personel Patroli Jalan Raya (PJR)."Setelah dari PDAM Bukittinggi, masing-masing mobil tangki air bersih diberangkatkan menuju tujuan," sebut Taufiq.Taufiq menjelaskan truk tangki diberangkatkan dari gerbang Tol XIII Koto Kampar dan pengisian air bersih dilakukan di PDAM Bukittinggi, Sumatera Barat.Sebelumnya, Polda Riau juga menerjunkan 290 personel untuk membantu penanganan pascabencana di Kabupaten Agam.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-04 00:00