Kado Akhir Tahun Kawa Setiawan: Rumah Baru di Atas Luka Longsor

2026-01-11 22:57:12
Kado Akhir Tahun Kawa Setiawan: Rumah Baru di Atas Luka Longsor
BANDUNG, - Matahari di ufuk Arjasari merayap malu-malu di balik kabut, namun bagi Kawa Setiawan (45), cahaya itu tak lagi sama sejak Jumat yang kelam di awal Desember 2025.Tanah yang selama puluhan tahun ia pijak dengan rasa aman, tiba-tiba menjelma menjadi gelombang maut yang luruh dari ketinggian.Longsor itu tidak hanya mengubur dinding-dinding kayu dan ingatan, tetapi juga merenggut dua belahan jiwanya: Sang ibu mertua, Aisyah (70), dan putri tercintanya, Citra (20).“Alhamdulillah sebesar-besarnya,” bisik Kawa, suaranya parau tersapu angin gunung, Kamis .Kalimat itu bukan sekadar basa-basi, melainkan muara dari rasa syukur yang dalam atas uluran tangan sesama manusia.Di hadapannya, delapan fondasi rumah mulai tumbuh dari tanah relokasi, sebuah ikhtiar yang lahir dari kedermawanan Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurizal, dan putrinya, Humairah, anggota DPRD Provinsi Jabar.Baca juga: Bertahan di Bawah Reruntuhan, Kisah Amas Selamat dari Longsor Arjasari, BandungKawa adalah seorang Kepala Dusun, seorang pamong yang dalam silsilah pengabdiannya dipaksa oleh takdir untuk memilih antara kewajiban dan duka pribadi.Pada hari jahanam itu, di tengah guyuran hujan yang seperti air mata langit, Kawa sibuk menyingkirkan pohon tumbang demi akses jalan warga, sementara di sudut lain, rumahnya sendiri sedang dilumat bumi.Luka itu masih basah, sesejuk udara di Kampung Ciketug, Desa Wargaluyu, tempat ia kini berdiri di atas tanah yang baru.Bagi mereka yang kehilangan segalanya, waktu adalah musuh sekaligus obat. Selama masa tunggu yang penuh ketidakpastian, Kawa dan keluarganya harus meringkuk di rumah kontrakan. Meski atapnya mampu menepis hujan, Kawa merasa ada yang hilang: kemerdekaan."Kalau ngontrak, seberapa bebas pun kita, tetap ada batasannya. Tak akan pernah sama dengan rumah sendiri," ungkapnya dengan tatapan menerawang.Bantuan sewa rumah dari Bupati sebesar Rp 500.000 per bulan memang meringankan beban materi, namun batinnya tetap rindu pada rasa "pulang".Di sana, di bukit yang kini menjadi jurang menganga, masih ada 20 kepala keluarga lain yang mengharap mukjizat serupa.Ada trauma kolektif yang membuat 90 kepala keluarga enggan kembali ke pangkuan tanah kelahiran yang kini menjadi ancaman.Baca juga: Relokasi Korban Longsor Arjasari, Bupati Bandung Biayai Sewa Kontrakan 3 BulanCucun Ahmad Syamsurizal hadir bukan dengan narasi birokrasi yang kaku, melainkan janji yang ditunaikan di penghujung tahun.


(prf/ega)