Semeru Masih Bergolak: 27 Letusan dalam Sepekan, Status Awas Belum Dicabut

2026-02-02 16:23:49
Semeru Masih Bergolak: 27 Letusan dalam Sepekan, Status Awas Belum Dicabut
Jakarta- Aktivitas Gunung Semeru terus menunjukkan gejala erupsi berkelanjutan satu pekan setelah awan panas besar meluncur sejauh 13,8 kilometer pada 19 November 2025. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan tingkat aktivitas tetap berada pada Level IV (Awas) karena kegempaan dan letusan dangkal masih tinggi.Hingga 26 November 2025 pukul 12.00 WIB, pemantauan visual mencatat 27 kali letusan dengan asap berwarna putih kelabu setinggi 300–1.000 meter, mengarah ke utara dan tenggara.Kondisi cuaca yang berkabut kerap menghalangi pengamatan langsung, namun pola erupsi kecil-menengah dari Kawah Jonggring Seloko masih terus terjadi.AdvertisementPlt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria mengatakan, aktivitas yang terjadi menunjukkan pola yang masih fluktuatif meski tekanan dangkal mulai stabil.“Secara umum Semeru sudah mulai menunjukkan stabilisasi, tetapi aktivitas erupsi dangkal, guguran, dan potensi bahaya sekunder masih tinggi. Karena itu kami pertahankan Level Awas,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu .


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-02-02 15:52