Terdampak Bencana, Aceh Minta Kelonggaran Waktu Pelunasan Biaya Haji

2026-02-02 16:03:27
Terdampak Bencana, Aceh Minta Kelonggaran Waktu Pelunasan Biaya Haji
JAKARTA, - Pemerintah Provinsi Aceh meminta kelonggaran waktu pelunasan biaya haji 2026 bagi jemaah asal wilayah itu, setelah dilanda bencana banjir dan tanah longsor akhir November 2025.Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah mengatakan, Pemerintah Aceh meminta perpanjangan batas waktu pelunasan biaya haji tahap kedua, yang sebelumnya ditetapkan hingga 9 Januari 2026."Jamaah haji kami pertama kami meminta kelonggaran untuk setornya setelah ditetapkan terakhir di tanggal 9 Januari, kami minta keringanan untuk diperpanjang khusus Aceh," ujar Fadhlullah dalam rapat koordinasi Satuan Tugas Pemulihan Pascabencana Sumatera yang digelar DPR RI di Aceh, Selasa .Baca juga: Mendagri soal Bencana: Paling Berat Aceh Tamiang, Sumut Cepat Sekali RecoverDia menjelaskan, meskipun secara umum pelunasan biaya haji di Aceh telah mencapai hampir 60 persen, sejumlah daerah terdampak bencana masih mengalami kesulitan dalam melakukan pelunasan."Karena sampai saat ini hampir 60 persen sudah disetor, tapi di daerah-daerah bencana ini masih kurang," kata dia.Fadhlullah mencontohkan kondisi di Kabupaten Aceh Tamiang, di mana jumlah jemaah yang telah melunasi biaya haji masih sangat rendah."Masih seperti Aceh Tamiang, kemarin kami monitor dari 158 baru 7 orang yang setor," ungkap Fadhlullah.Oleh karena itu, Pemerintah Aceh berharap pemerintah pusat dapat memberikan kebijakan khusus bagi jemaah haji dari daerah terdampak bencana."Kami harap agar diberikan kelonggaran untuk jemaah haji," kata Fadhlullah.Selain pelunasan biaya haji, Fadhlullah juga meminta kelonggaran dalam pelaksanaan seleksi Petugas Haji Daerah (PHD) di Aceh.Baca juga: Presiden Prabowo Bakal ke Aceh Tamiang pada 1 JanuariSebab, penerapan aturan seleksi PHD secara normal akan sulit dilakukan di Aceh akibat kondisi pascabencana."PHD di Aceh kalau untuk ikut aturan, tidak mungkin harus mereka mengikuti seleksi semuanya," ucapnya.Fadhlullah berharap pemerintah pusat dapat memberikan kebijakan khusus agar Pemerintah Aceh dapat mengusulkan petugas haji daerah dengan mempertimbangkan keterwakilan wilayah terdampak."Kami juga harap kepada pimpinan untuk diberikan kelonggaran khusus untuk PHD kali ini di Aceh bisa untuk kami mengusulkan supaya untuk menyempurnakan keterwakilan daerah-daerah nanti yang akan kami usulkan," pungkasnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-02-02 14:42