Tsunami-Banjir Aceh: Pelajaran untuk Edukasi, Tata Ruang, dan Pemulihan Alam

2026-02-02 16:56:50
Tsunami-Banjir Aceh: Pelajaran untuk Edukasi, Tata Ruang, dan Pemulihan Alam
- Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh sejak November 2025 meninggalkan kerusakan luas, mulai dari rumah warga, bangunan publik, hingga jembatan.Tragedi ini juga menelan korban jiwa dalam jumlah besar dan memaksa ribuan warga mengungsi.Berdasarkan data terbaru yang dirilis BNPB per Senin pukuk 06.00 WIB, jumlah korban meninggal dalam peristiwa banjir Sumatera kembali bertambah menjadi 1.140 jiwa.Dari jumlah itu, Aceh mencatat korban meninggal terbanyak yakni 513 jiwa, dibandingkan Sumatera Utara 365 jiwa dan Sumatera Barat 262 jiwa. Kerusakan infrastruktur juga tercatat terjadi di sekitar 18 kabupaten dan kota di Aceh. Dampaknya merambah sektor pendidikan dan keagamaan, dengan sedikitnya 211 pesantren dilaporkan mengalami kerusakan parah.Aceh bukan pertama kali menghadapi bencana berskala besar. Pada 2004, provinsi ini pernah diguncang tsunami dahsyat yang menewaskan ratusan ribu orang.Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat korban jiwa saat itu mencapai sekitar 200.000 orang, dengan dampak yang dirasakan hingga ke berbagai negara.Rentetan peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Aceh menghadapi ancaman bencana alam sekaligus bencana ekologis.Lantas, langkah apa yang perlu disiapkan agar risiko serupa dapat diminimalkan di masa depan?Baca juga: Terima Bantuan dari Malaysia untuk Korban Bencana Aceh, Mualem: Terima KasihPeneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Adrin Tohari, menekankan pentingnya pembaruan tata ruang wilayah, terutama di kawasan yang pernah terdampak tsunami dan banjir.“Yang paling penting untuk daerah yang sudah pernah mengalami bencana adalah memperbarui tata ruang kota, kabupaten, maupun provinsi, serta menegakkan aturan tata ruang tersebut secara tegas,” katanya, saat dimintai pandangan Kompas.com, Jumat .Selain itu, ia menilai penghentian deforestasi dan pelarangan pembangunan permukiman di kawasan rawan bencana, seperti bantaran sungai dan wilayah pesisir, harus menjadi prioritas.Edukasi kebencanaan dan sistem peringatan dini yang efektif juga dinilai krusial agar masyarakat mampu melakukan evakuasi secara mandiri ketika potensi bencana muncul.“Masyarakat dan pemerintah kita juga cenderung mudah lupa pada kejadian masa lalu. Karena itu, edukasi bencana dan pengambilan keputusan harus dilakukan secara berkelanjutan agar pengetahuan tersebut dapat diwariskan ke generasi berikutnya,” ujar Adrin.Ia menambahkan, standar operasional prosedur (SOP) penanganan bencana, termasuk tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, perlu dijalankan secara konsisten dengan belajar dari pengalaman bencana sebelumnya.Baca juga: Viral, Video Ibu Gendong Bayi Seberangi Sungai Deras Pakai Tali Sling di Aceh Tengah


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 15:56