Cerita dari Sekolah Rakyat di Samarinda: Printer Pinjam, Air Sulit Murid Mandi di Masjid

2026-01-12 09:17:03
Cerita dari Sekolah Rakyat di Samarinda: Printer Pinjam, Air Sulit Murid Mandi di Masjid
SAMARINDA, — Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Samarinda sudah berjalan sekitar sebulan lebih. Meski begitu, sekolah ini masih perlu berbagai fasilitas penunjang. Masalah air bersih juga menjadi kendala rutin di sini.Sekolah ini menjadi tempat belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang datang dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58, Rabiatul Adawiyah mengatakan, sejak mulai beroperasi sekitar sebulan, banyak tantangan yang harus dihadapi.Di antaranya adalah fasilitas belajar masih terbatas. Begitu pula sarana penunjang lain seperti ruang bermain dan olahraga.Baca juga: Pedagang Ikan di Samarinda Keluhkan Maraknya Uang Palsu, Uang Luntur saat Terkena Air“Halaman bermain anak masih kurang, fasilitas olahraga belum ada. Perpustakaan, UKS, dan musala juga belum tersedia,” kata Rabiatul saat ditemui di Samarinda, Rabu .Untuk menjalankan kegiatan belajar, pihak sekolah memanfaatkan perlengkapan seadanya.Printer dan proyektor yang digunakan masih pinjaman dari sekolah lain.“Sudah satu bulan setengah kami berjalan dengan fasilitas seadanya. Printer dan proyektor kami pinjam, semoga tidak cepat ditarik,” ujarnya.Posisi sekolah ini berada di ujung jaringan. Hal ini membuat aliran air sering terhenti lebih dulu dibanding kawasan lain.“Kalau air mati, di tempat lain masih mengalir. Kami sangat membutuhkan bantuan tandon air supaya bisa menampung air saat mati,” katanya.Tantangan lain juga datang dari kondisi siswa yang beragam.Baca juga: Polisi Ditemukan Tewas Tergantung di Asrama Polresta SamarindaBeberapa anak masih terlalu muda, sementara ada pula yang memiliki masalah kesehatan seperti mag akut.“Salah makan sedikit bisa kambuh. Kadang kami harus membawa mereka ke rumah sakit,” ujarnya.Salah satu siswa, Asdar (17), mengatakan bahwa kegiatan belajar berjalan meski masih banyak kekurangan.“Yang belum ada itu alat tulis, seragam, buku bacaan, sama perpustakaan. Kalau olahraga, kami main bola di lapangan upacara saja,” katanya.


(prf/ega)