Bupati Ayahwa Curhat ke Dasco: Seakan Aceh Utara Tidak Ada Bencana, Seakan Pusat Tutup Mata...

2026-01-17 01:55:59
Bupati Ayahwa Curhat ke Dasco: Seakan Aceh Utara Tidak Ada Bencana, Seakan Pusat Tutup Mata...
ACEH, - Bupati Aceh Utara, Provinsi Aceh, Ismail A Jalil, yang akrab disapa Ayahwa, mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah pusat terhadap kabupaten yang dipimpinnya.Keluhan tersebut disampaikan Ayahwa dalam rapat satuan tugas pemulihan pascabencana DPR RI yang dipimpin Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad pada Selasa .Ayahwa menyebutkan, pada pekan pertama banjir, akses komunikasi dan listrik terputus, sehingga bencana tersebut tidak menjadi viral di media sosial.Baca juga: Kepada Wakapolri, Bupati Ayahwa: Butuh Dukungan Besar untuk Pemulihan Aceh Utara"25 kecamatan kami terendam banjir, dua kecamatan longsor. 213 jiwa meninggal dunia, karena sinyal telekomunikasi dan lisrik padam, kami tidak viral. Maka, seakan nasional tidak tahu ada bencana banjir di Aceh Utara," kata Ayahwa.Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Aceh Utara mencatat jumlah korban jiwa terbanyak, yaitu 213 orang.Ayahwa menceritakan pernah meminta helikopter untuk distribusi bantuan ke daerah pedalaman Aceh Utara yang akses daratnya terputus total, namun permintaan tersebut tidak dipenuhi."Pak Presiden selalu ke Aceh Tamiang, Aceh Tengah, dan Pidie Jaya. Tapi di Aceh Utara, kayaknya tidak tau ada banjir, kami sinyal tidak ada, telepon mati, makanya tidak viral," terangnya.Baca juga: Bupati Ayahwa ke BNPB: Data Rumah Sudah Ada, Kapan Kita Eksekusi? Rakyat ButuhIa membandingkan dengan banjir di Bireuen yang menjadi viral karena jembatan putus, serta Aceh Tamiang yang viral karena pusat kotanya terdampak."Sinyal ponsel mati, kami hanya bisa melihat saja, rumah hanyut, masjid, manusia hanyut. Kami hanya bisa lihat dari atap meunasah (musala)," beber dia.Ayahwa menambahkan, minimnya publikasi membuat pejabat pusat seolah menutup mata terhadap bencana di Aceh Utara.Ia mengapresiasi kedatangan Ketua MPR RI Ahmad Muzani ke Langkahan, Aceh Utara."Mohon maaf bukan saya kasar, tapi ini curahat hati saya," pungkasnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-17 01:59