Warga Aceh Utara Minta Maskapai Turunkan Harga Tiket di Daerah Bencana

2026-01-12 03:59:24
Warga Aceh Utara Minta Maskapai Turunkan Harga Tiket di Daerah Bencana
ACEH UTARA, – Warga Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh meminta maskapai yang melayani rute Bandara Kuala Namu Sumatera Utara ke Bandara Sultan Malikussaleh Aceh Utara menurunkan harga jual tiket. Pasalnya sejak bencana banjir dan longsor harga tiket itu tetap dijual Rp 1,5 juta.Hal itu terlihat pada aplikasi pembelian tiket dengan jadwal penerbangan 12 Desember 2025 dijual dengan harga Rp 1.549.800. Saat ini hanya ada satu maskapai yang melayani penerbangan ini, yakni Wings Air terbang dengan jadwal empat kali dalam sepekan yaitu Senin, Selasa, Kamis dan Minggu.Baca juga: Update Banjir Aceh Utara: 154 Tewas, 10 Warga Belum DitemukanSalah seorang warga Desa Simpang Keuramat, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara, Putri Zuhra Funna, meminta maskapai memberi keringanan harga selama bencana.“Karena warga dan relawan banyak yang datang ke daerah bencana salah satunya Aceh Utara. Jika tiket mahal, maka harus lewat jalan darat, itu butuh waktu sepuluh jam jalan darat Medan-Aceh Utara,” sebut Putri, Kamis .Dia menyebutkan, kondisi itu memberatkan warga dan relawan yang ingin membantu masyarakat korban longsor dan banjir.Baca juga: Bantuan Tak Kunjung Tiba, Pemkab Bener Meriah Datangkan BBM Pakai Kuli Panggul dari Aceh UtaraHal yang sama disebutkan Zulfikar Mulieng (35) warga Desa Simpang Mulieng, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara.Dia mendesak pemerintah, terkhusus Kementerian Perhubungan RI agar segera memberi kebijakan khusus pada bandara yang berada kawasan bencana.“Menhub harap berkomunikasi dengan maskapai, agar bandara di lokasi bencana mendapat diskon harga khusus pesawat komersial,” pungkasnya.Baca juga: 230.000 Korban Banjir Aceh Utara Diperkirakan Bertahan di Pengungsian Dua PekanSebelumnya diberitakan banjir merendam 18 kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Daerah terparah yaitu Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah.


(prf/ega)