SOLO, - Alunan gamelan laras slendro pathet sanga merayap keluar dari sudut panggung, mengisi udara dengan ritme lancaran yang mantap mengalun.Di tengah cahaya lembut, seorang penari melangkah masuk, membawakan Tari Topeng Cepak Tegal, karya berdurasi sepuluh menit yang merayakan tubuh, warna, dan identitas budaya.Sendirian di panggung, ia menghadirkan dua karakter sekaligus: maskulin dan feminin.Geraknya lincah sekaligus terukur, seolah tubuhnya menjadi jembatan antara dua energi yang bertentangan namun saling melengkapi.Baca juga: Saling Klaim Takhta Raja Keraton Surakarta, Hamengkunegoro dan HangabehiTopeng merah muda yang dikenakannya memancarkan kesan magis, dengan corak emas dan mata sipit yang terinspirasi ikan-ikan kecil di sungai.Kostum batik tegalan bermotif kembang poci dipadukan dengan warna merah, hijau, dan emas khas batik Cirebon, membentuk harmoni visual yang mencolok namun lembut.Iket kepala, kalung kace, bokongan, bingel, dan aksesori khas wayang cepak bergerak mengikuti setiap tarikan napas, gerakan, dan alunan gamelan, menambah lapis cerita pada tubuh yang menari.Dalam perjumpaan antara batik, warna, dan aksesori itu, penari seakan menjadi dua dunia dalam satu tubuh, sebuah pengingat bahwa seni topeng bukan hanya meminjam wajah, melainkan membentuk cara baru bagi tubuh untuk bercerita.Cahwati Sugiarto, pencipta sekaligus penari Tari Topeng Cepak Tegal, menyebut ide awal karyanya muncul dari ketertarikannya pada Wayang Golek Cepak Tegalan yang ia anggap sangat khas dan populer di Tegal.“Dari situlah saya mengembangkan bentuk wajah, gerakan, dan karakter tarinya,” kata Cahwati saat ditemui dalam persiapan International Mask Festival, Jumat .Gerak tari ini mengikuti karakter tubuh wayang golek, kadang lembut, tiba-tiba patah, lalu kembali tegas.Namun karakter itu tetap ia kembangkan agar sesuai kebutuhan tari.“Untuk tari ini saya memadukan unsur maskulin dan feminin. Gerakannya lincah dan tajam, terinspirasi tokoh-tokoh seperti Karno dalam dunia wayang,” jelasnya.Cahwati mengaku bangga memperkenalkan karya ini, terlebih di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap seni tari di daerahnya.“Saya sangat senang menari topeng. Ini pertama kalinya saya menciptakan karya topeng sekaligus membawakannya sendiri. Menari dengan topeng butuh keseimbangan dan kepekaan arah,” ujarnya.
(prf/ega)
Tari Topeng Cepak Tegal: Wajah dan Gerakan dari Rasa Spiritual
2026-01-11 03:52:33
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 04:11
| 2026-01-11 03:18
| 2026-01-11 03:14
| 2026-01-11 02:44
| 2026-01-11 02:15










































