Korban Banjir Aceh Utara Mulai Diserang Penyakit, Diare hingga Kaki Bengkak

2026-01-12 14:27:32
Korban Banjir Aceh Utara Mulai Diserang Penyakit, Diare hingga Kaki Bengkak
ACEH UTARA, – Korban banjir di Desa Paloh Raya, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, mulai mengalami berbagai gangguan kesehatan.Sejumlah warga mendatangi pos kesehatan yang didirikan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Aceh Utara di lokasi pengungsian.Kaum ibu tampak datang membawa anak-anak mereka untuk mendapatkan perawatan.“Diare anak saya,” kata Mursidah, Minggu , sambil mengusap kepala bayinya.Baca juga: Nasib Korban Bencana Aceh Tamiang, 25 Hari Bertahan Hidup Tanpa ListrikTim dokter umum kemudian memeriksa suhu tubuh balita tersebut dan memberikan obat demam serta batuk.Selain diare, sejumlah pengungsi juga mengeluhkan penyakit kulit. Dua wadah besar berisi obat-obatan disiapkan untuk melayani para korban banjir.Keluhan serupa juga dialami pengungsi di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.Seorang pria paruh baya mengaku kakinya mengalami pembengkakan setelah terendam air banjir dalam waktu lama.“Gatalnya luar biasa, karena terendam banjir,” katanya dengan nada malu-malu.Baca juga: Berkali-kali Aceh Utara Minta Alkes ke Kemenkes, Namun Bantuan Tak Kunjung TibaKetua PMI Aceh Utara, Tantawi, menyebutkan operasi kemanusiaan PMI sejauh ini telah menjangkau sekitar 2.500 pengungsi yang tersebar di 25 kecamatan di Aceh Utara.“Kita satu paketkan, distribusi air bersih, layanan kesehatan dan distribusi bantuan logistik serta pakaian,” terang Tantawi.Selain PMI, relawan dari alumni Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara juga turun langsung ke lokasi banjir.Fitra Phalevi menyatakan kondisi kesehatan para pengungsi cukup memprihatinkan.“Korban banjir mulai dewasa, anak-anak dan lansia, mengalami gangguan kesehatan seperti demam, batuk-pilek, diare, dan keluhan kulit akibat kontak dengan air banjir yang tercemar,” terang Fitra.Baca juga: Saat Korban Bencana Aceh Tamiang Tertegun Terima Bantuan dari Pembaca Kompas.comIa menambahkan, sejumlah warga juga menunjukkan tanda-tanda stres psikologis akibat kehilangan harta benda dan kerusakan rumah, sementara fasilitas kesehatan setempat kewalahan menangani tingginya jumlah pengungsi.


(prf/ega)