244 Event Bakal Meriahkan Libur Natal dan Tahun Baru 2026

2026-02-03 09:24:33
244 Event Bakal Meriahkan Libur Natal dan Tahun Baru 2026
Jakarta - Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyampaikan bahwa sebanyak 244 event telah disiapkan untuk menyambut wisatawan selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.Ratusan agenda tersebut digelar di berbagai daerah di Indonesia dan diharapkan mampu meningkatkan pergerakan wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara."Jumlah event selama Nataru itu adalah 244 event yang tersebar di seluruh Indonesia,” kata Ni Luh dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu .AdvertisementDia menjelaskan bahwa rangkaian acara tersebut mencakup beragam kegiatan, mulai dari konser musik hingga penyelenggaraan pertemuan, insentif, konvensi, pameran atau MICE, serta festival berskala internasional dan lokal.Dari keseluruhan agenda, terdapat empat event besar yang ditargetkan menarik lonjakan kunjungan wisatawan, salah satunya festival musik Electronic Dance Music (EDM) Djakarta Warehouse Project (DWP) yang pada 2025 akan digelar di Bali.Event besar lain yang juga diproyeksikan menarik pengunjung yaitu Jogja Rockarta Festival, Festival Minangkabau, dan BigBang Festival Jakarta.Ni Luh menambahkan bahwa Kementerian Pariwisata telah menyiapkan paket-paket wisata untuk mendukung kunjungan wisatawan selama periode liburan. Pemerintah menawarkan sekitar 65 paket perjalanan yang mencakup 10 destinasi prioritas pariwisata nasional, seperti Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan sejumlah destinasi lainnya.“Sampai dengan saat ini kami ada travel fair yang akan kami laksanakan untuk periode Desember 2025 hingga Januari 2026. Saat ini kami masih kompilasi untuk paket yang terjual sampai dengan nanti di Januari 2026,” ujar Ni Luh. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 08:42