BOGOR, — Keberadaan badut jalanan semakin mudah ditemui di berbagai sudut kota, dari persimpangan lampu merah hingga gang-gang perumahan.Fenomena ini bukan hanya soal hiburan singkat di tengah kemacetan, tetapi juga potret tekanan ekonomi yang memaksa sebagian warga turun ke jalan demi menyambung hidup.Mereka tampil dengan kostum warna-warni—ada yang rapi, ada yang lusuh, bahkan beberapa tanpa riasan sama sekali. Di tengah lalu lintas padat, respons masyarakat terhadap kehadiran para badut ini pun beragam.Sebagian warga menganggap badut jalanan sebagai bagian dari dinamika kota. Sementara itu, ada pula yang melihat kemunculan mereka sebagai gambaran kondisi ekonomi yang makin berat, hingga dianggap sebagai pemandangan yang lumrah.Baca juga: Kostum Lusuh, Terik Menyengat: Keteguhan Badut Jalanan di Bogor yang Tak Punya PilihanBagi Juli (25), pengguna jalan yang hampir setiap hari melintas di sejumlah titik lampu merah, kehadiran badut jalanan bukan hal baru.“Biasa aja, enggak ada masalah. Kadang lucu juga kalau lagi macet sebentar di lampu merah, ada yang pakai kostum nyentrik,” ujarnya.Namun, ia mengakui bahwa tidak semua situasi terasa menyenangkan. Ada situasi-situasi tertentu yang membuatnya kurang nyaman.“Saya sih nyaman-nyaman saja. Tapi kalau terlalu sering atau terlalu agresif minta uang, itu yang bikin risih dan harus ditertibin,” katanya.Menurut Juli, batas antara hiburan dan gangguan sangat tipis. Setiap kali badut terlalu dekat dengan jendela mobil atau mengetuk kaca, rasa tidak nyaman langsung muncul. Perasaannya pun bercampur antara apresiasi dan kewaspadaan.Di satu sisi, badut kerap menghibur anak-anak. Namun di sisi lain, permintaan uang yang terlalu memaksa justru menimbulkan tekanan.“Kalau anak-anak lihat, kadang senang. Tapi ada juga yang maksa minta uang, itu bikin agak risih. Jadi ya tergantung situasinya,” ujarnya.Ia sesekali memberi uang, tetapi hanya kepada badut yang sopan dan tidak mengganggu.Baca juga: Sebelum Hilang, Badut Jalanan di Depok Sempat Keluhkan VertigoSelain itu, Juli memandang fenomena ini secara realistis, yaitu banyak badut yang bekerja di jalan karena tidak memiliki pilihan pekerjaan lain.“Kayaknya karena enggak ada pekerjaan lain. Saya lihat ada yang muda, ada yang udah tua. Jadi ya ini cara mereka nyari penghasilan,” ungkapnya.Menurut dia, pemerintah seharusnya tidak sekadar menertibkan, tetapi juga menyediakan alternatif mata pencaharian yang manusiawi.
(prf/ega)
Fenomena Badut Jalanan: Antara Hiburan, Desakan Ekonomi, dan Sudut Ruang Kota
2026-01-12 08:02:48
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 08:03
| 2026-01-12 07:21
| 2026-01-12 07:18
| 2026-01-12 07:03










































