Jerami Jadi BBM Alternatif, Bahannya Gratis tapi Ongkos Produksi Mahal

2026-01-15 18:18:45
Jerami Jadi BBM Alternatif, Bahannya Gratis tapi Ongkos Produksi Mahal
- Bahan bakar minyak (BBM) alternatif dari sumber-sumber nabati sedang banyak diperbincangkan. Salah satu yang banyak dibahas adalah BBM alternatif dari jerami padi.Meski punya potensi, Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan masih terdapat tantangan dan kendala mengenai pemanfaatan jerami menjadi bahan bakar alternatif biofuel. Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur di BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar mengatakan bahwa riset jerami mengenai biofuel masih berada dalam tahap laboratorium."Kami pernah meneliti jerami pada 2015-2016, dan kendala terbesar adalah rendemen rendah serta belum adanya teknologi produksi yang efisien," ujar Supriyadi, dikutip dari Kompas.com, Rabu .Secara teori, Supriyadi mengatakan biomassa seperti jerami memang memungkinkan dikonversi menjadi produk bahan bakar, termasuk ethanol. Namun, terdapat faktor yang menjadi tantangan dalam penentu keberhasilan biofuel, yakni proses pra-perlakuan yang semestinya efektif namun tetap murah, teknologi produksi yang efisien, serta logistik dan rantai pasok material yang masih perlu ditata dengan baik.Selain itu, biofuel yang dihasilkan pun harus memenuhi standar nasional maupun internasional.Namun, bagaimana sebetulnya jerami bisa diubah menjadi bahan bakar alternatif biofuel?Baca juga: 7 Fakta Bobibos, BBM Nabati Berbahan Jerami yang Diklaim Ramah LingkunganPeneliti dari Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar, Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Prof. Rizal Alamsyah mengatakan bahwa limbah pertanian seperti jerami padi memiliki potensi menjadi bahan baku bioetanol yang merupakan salah satu jenis biofuel."Jerami padi (Rice straw) atau limbah pertanian/perkebunan lainnya seperti bongkol jagung, tandan kosong sawit, limbah biomassa pertanian/perkebunan, dan limbah organik rumah tangga memiliki potensi besar sebagai bahan baku bioetanol," kata Rizal dalam pernyataannya kepada Kompas.com, Kamis .Hal itu disebabkan kandungan selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang bermanfaat menjadi bahan baku bioetanol. Produksi tersebut diketahui menjadi alternatif solusi yang ramah lingkungan.Baca juga: 10 Kutipan Terkenal God Usopp, Kru Bajak Laut Topi Jerami"Produksi bioetanol dari jerami padi dapat menjadi solusi energi alternatif yang ramah lingkungan, karena menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil," jelas Rizal. Rizal mengatakan bahwa secara global, produksi komersial bioetanol dari jerami padi masih dalam tahap pengembangan dan uji coba/demonstrasi dan belum mencapai komersialisasi skala besar yang meluas."Meskipun negara-negara seperti Amerika Serikat dan Brasil memimpin produksi bioetanol global, bahan baku utama mereka masing-masing adalah jagung dan tebu, bukan jerami padi," ungkap Rizal.Manfaat lain dari jerami juga dapat menjadi bahan baku pangan seperti jagung, singkong shorgum, dan lainnya.Baca juga: 15 Kata-kata Bijak Roronoa Zoro, Wakil Kapten Bajak Laut Topi JeramiSupriyadi mengatakan bahwa komposisi kimia jerami padi didominasi oleh karbohidrat kompleks.karbohidrat tersebut meliputi selulosa (37,71 persen), hemiselulosa (21,99 persen), dan lignin (16,62 persen).Selain itu, jerami padi juga mengandung protein kasar (sekitar 4,24-4,30 persen) dan lemak kasar (1,01 persen). Terdapat juga kandungan mineral seperti silika, kalsium, dan fosfor, serta senyawa bioaktif seperti senyawa fenolik.Baca juga: Warganet Sebut Pemilihan Livery Putih Pesawat RI 1 Bisa Bantu Hemat Bahan Bakar, Benarkah?


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#1

Perubahan Anggaran Dasar dilakukan sebagai bentuk penyesuaian terhadap ketentuan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (UU BUMN). Salah satu implikasi penting dari penyesuaian tersebut adalah perubahan nama perseroan, dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk menjadi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.Sementara itu, pelimpahan kewenangan persetujuan RKAP 2026 dan RJPP 2026-2030 kepada Dewan Komisaris dijalankan dengan tetap mengedepankan mitigasi risiko serta prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG).Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, mengatakan seluruh keputusan RUPSLB merupakan bagian dari konsolidasi tata kelola perseroan agar semakin adaptif terhadap regulasi dan tantangan bisnis ke depan.Baca juga: Dana Rp 2,5 Miliar Digelontorkan, PGN Percepat Bantuan Banjir Aceh–Sumut“Penyesuaian yang disetujui pemegang saham bertujuan memastikan keselarasan anggaran dasar Perseroan dengan ketentuan regulasi yang berlaku, sekaligus memperkuat kejelasan peran, mekanisme pengambilan keputusan, dan akuntabilitas pengelolaan perusahaan secara berkelanjutan,” ujar Fajriyah.PGN menilai, langkah strategis yang diputuskan dalam RUPSLB ini mencerminkan komitmen kuat perusahaan dalam menjaga kepastian regulasi, memperkokoh struktur tata kelola, serta memastikan keberlanjutan kinerja jangka panjang. Upaya tersebut sejalan dengan mandat PGN sebagai subholding gas di bawah PT Pertamina (Persero), khususnya dalam mendukung ketahanan dan transisi energi nasional.

| 2026-01-15 17:47