KLH Setop Operasi 4 Perusahaan Imbas Banjir Sumut, Salah Satunya Klaim Baru Dipanggil Verifikasi

2026-01-12 04:30:56
KLH Setop Operasi 4 Perusahaan Imbas Banjir Sumut, Salah Satunya Klaim Baru Dipanggil Verifikasi
- Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyampaikan empat perusahaan telah dihentikan operasionalnya karena disinyalir memberikan kontribusi signifikan terhadap kerusakan lingkungan.Perusahaan tersebut adalah PT Agincourt Resources , PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III), dan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) selaku pengembang PLTA Batang Toru. Penyidik masih melakukan verifikasi terhadap empat perusahaan lainnya.Selain penghentian operasional, KLH mewajibkan audit lingkungan untuk memastikan pengendalian tekanan ekologis di wilayah hulu DAS.KLH juga memeriksa delapan perusahaan yang diduga berkontribusi terhadap bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara pada Senin hingga Selasa .Baca juga: Kemenhut Segel 7 Subjek Hukum yang Diduga Jadi Penyebab Kerusakan Hutan hingga Banjir di SumutPemeriksaan ini dilakukan untuk menilai kegiatan usaha yang berada di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), terutama Batang Toru, yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak bencana.Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa langkah investigasi dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab negara dalam memastikan pemulihan ekologis di kawasan rawan."Hari ini empat perusahaan (diperiksa), besok empat perusahaan yang memiliki persetujuan lingkungan di dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru," ujar Hanif di Jakarta Selatan.Baca juga: KLH Ungkap Tambang, Sawit, dan PLTA Babat Hutan SumateraKLH menyebut banjir dan longsor terjadi di lima DAS utama, yaitu Batang Toru, Garoga, Badili, Aik Pandan, dan Sibuluan.Evaluasi awal menunjukkan bahwa tekanan terbesar berada di kawasan hulu DAS Batang Toru, lokasi delapan unit perizinan usaha berdiri.Hanif menjelaskan bahwa DAS Garoga menjadi wilayah yang mengalami dampak paling besar, di mana satu desa tertimbun material longsor.Dari hasil penelusuran, ditemukan areal perkebunan kelapa sawit yang dikelola entitas swasta di wilayah tersebut.Baca juga: KLH Telusuri Sumber Gelondongan Kayu yang Terbawa Banjir SumateraMeskipun ditemukan beberapa potongan kayu, Hanif menilai faktor utama kerusakan berasal dari intensitas hujan yang tinggi pada area hulu dengan kemiringan lereng sangat terjal."Saya memang melihat ada sedikit kayu yang ada potongan tetapi tidak terlalu banyak, di DAS Garoga ya yang membawa korban cukup besar. Karena hampir satu dusun tertimbun tanah dari longsoran di puncaknya," ujarnya.Kondisi serupa juga terjadi di DAS Badili, yang memperlihatkan kerusakan hulu parah hingga menyebabkan banyak gelondongan kayu terbawa banjir dan menumpuk di berbagai titik kota.Secara geografis, rangkaian DAS di Sumatera berada di pegunungan Bukit Barisan yang memiliki karakter lereng curam.Baca juga: Korban Banyak, KLH Tegaskan Penegakan Hukum untuk Perusak Lingkungan di Sumatera


(prf/ega)