NUSANTARA, - Kalimantan Timur (Kaltim) kini berada di episentrum pembangunan nasional berkat Ibu Kota Nusantara (IKN).Namun, laju pembangunan masif seringkali diiringi risiko overheating ekonomi dan lonjakan inflasi, khususnya pada bahan pangan.Di tengah tantangan ini, Kaltim mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih penghargaan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Terbaik 2024 dan mampu menekan inflasi daerah hingga 1,47 persen (yoy) pada tahun 2024 atau turun drastis dari 3,46 persen pada 2023.Baca juga: Kerek UMKM Balikpapan dan IKN Naik Kelas, BI Dorong Penggunaan QRIS TapKinerja positif ini tidak lepas dari implementasi inovatif Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang disinergikan dengan strategi yang bersifat preventif dan antisipatif, mengubah Kaltim menjadi acuan pengendalian inflasi daerah.Inflasi di daerah sendiri seringkali didorong oleh faktor supply-side (pasokan dan distribusi) yang berada di luar jangkauan instrumen kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).Untuk mengatasinya, BI Kaltim bersama TPID mengawinkan GNPIP dengan program lokal unggulan Deteksi Dini, Aksi Cepat, dan Harga Stabil (Sigap).Kepala Perwakilan BI Provinsi Kaltim Budi Widihartanto menuturkan, dalam skema GNPIP-Sigap, intervensi tidak lagi dilakukan secara umum.Sebelumnya, Early Warning System (EWS) BI Kaltim secara rutin memetakan dan mendiagnosis penyebab spesifik kenaikan harga.Baca juga: Alarm Merah Inflasi IKN Berbunyi, BI Kaltim Siapkan Jurus 4K"Hasil diagnosis data yang kuat ini kemudian menjadi basis perumusan kebijakan daerah, memungkinkan pembagian peran yang jelas antar stakeholder dalam TPID," tutur Budi kepada Kompas.com, Rabu .Model kolaboratif ini terbukti efektif dalam menjaga stabilitas harga di tengah tekanan peningkatan permintaan, yang dipicu oleh lonjakan pekerja konstruksi IKN dan penyelenggaraan agenda-agenda besar macam MTQ Nasional, dan lain-lain.Keberhasilan ini menegaskan model GNPIP Kaltim kini mampu mengatasi dampak volatilitas harga komoditas domestik dan global secara berkelanjutan dengan fokus pada penguatan pasokan.Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,1 persen, yang ditopang sektor industri, risiko peningkatan kebutuhan pangan dan biaya logistik, khususnya terkait IKN menjadi tantangan utama, mengingat Kaltim berkarakteristik sebagai daerah net konsumen. Menjawab tantangan ini, TPID Kaltim telah mengembangkan aplikasi Mekanisme Pengendalian Komoditas Utama (Mandau).Baca juga: Menkeu Baru, BI Kaltim Ungkap Strategi Jaga Ekonomi Daerah Aplikasi end-to-end berbasis Akal Imitasi (AI) dan Machine Learning (ML) ini mendorong pengendalian inflasi yang bersifat antisipatif dan preventif.Adapun fitur utama Mandau Kaltim mencakup:
(prf/ega)
Strategi BI Kaltim Jaga Stabilitas Harga Pangan dan Tekan Ketergantungan Batubara
2026-01-12 01:00:46
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:31
| 2026-01-12 06:27
| 2026-01-12 05:32
| 2026-01-12 04:34
| 2026-01-12 04:01










































