Nasib 3 Astronaut China Usai Gagal Pulang ke Bumi

2026-02-02 04:12:35
Nasib 3 Astronaut China Usai Gagal Pulang ke Bumi
BEIJING, – Kantor Program Antariksa China (China’s Manned Space Engineering Office) memberikan kabar terkini mengenai tiga astronautnya yang gagal kembali ke bumi karena kapsul mereka diduga tertabrak serpihan antariksa.Dalam keterangannya pada Selasa , tiga astronaut tersebut dalam kondisi baik dan “beraktivitas seperti biasa” di stasiun luar angkasa Tiangong.Namun, waktu kepulangan para astronaut tersebut belum diketahui secara pasti atau ditunda ke tanggal yang tidak ditentukan.Baca juga: 3 Astronaut China Gagal Pulang ke Bumi, Kapsul Tabrak Puing AntariksaKabar terbaru yang dirilis oleh kantor Program Antariksa China menegaskan bahwa tidak ada masalah serius dengan kesehatan maupun rutinitas para astronaut.“Kru Shenzhou-20 dalam kondisi baik, bekerja dan hidup secara normal,” demikian bunyi pernyataan resmi lembaga tersebut.Lembaga tersebut juga menyatakan bahwa tim darat kini melakukan serangkaian uji dan simulasi untuk memastikan keselamatan sebelum kepulangan dilakukan.Meski belum ada tanggal pasti, para astronaut dikabarkan tetap menjalankan tugas-tugas ilmiah sesuai jadwal.Misi bernama Shenzhou-20 itu semula dijadwalkan kembali ke bumi pada 5 November 2025, setelah enam bulan berada di orbit.Namun, beberapa jam sebelum keberangkatan, badan antariksa China menunda kepulangan karena kapsul yang seharusnya membawa mereka pulang diduga terkena serpihan kecil luar angkasa.Dalam pernyataan di media sosial Weibo pada hari itu, China Manned Space Agency (CMSA) mengatakan bahwa analisis dampak dan penilaian risiko sedang dilakukan “untuk memastikan keselamatan seluruh enam astronaut yang kini berada di stasiun luar angkasa.”Baca juga: Arab Saudi Siap Kirim Astronaut Perempuan ke Ruang Angkasa pada 2030Ketiga astronaut—Chen Dong, Chen Zhongrui, dan Wang Jie—saat ini tetap berada di Tiangong bersama tiga astronaut pengganti dari misi Shenzhou-21, yang tiba pada 31 Oktober.CMSA belum mengumumkan sejauh mana kerusakan pada kapsul Shenzhou-20 maupun kapan kepulangan mereka akan dijadwalkan ulang.Bagi komandan misi Chen Dong, keterlambatan ini membuatnya memperpanjang rekor sebagai astronaut China dengan waktu terlama di luar angkasa—lebih dari 400 hari secara akumulatif.Catatan itu melampaui misi-misi sebelumnya dan memperkuat posisinya sebagai salah satu taikonaut paling berpengalaman.Situasi Chen sedikit mengingatkan pada kasus Frank Rubio, astronaut NASA yang pada 2023 mencatat rekor 371 hari di luar angkasa setelah kapsul Soyuz miliknya rusak akibat hantaman meteoroid.NASA Ilustrasi astronot saat mendarat di bulan.Meski menghadapi insiden ini, kemajuan program luar angkasa China tetap signifikan. Sejak pertama kali mengirim manusia ke orbit pada 2003, Beijing telah membangun stasiun luar angkasa sendiri dan menargetkan pendaratan manusia di Bulan sebelum 2030.Sementara itu, tim pengganti Shenzhou-21—yang membawa serta sekelompok tikus untuk eksperimen ilmiah—telah berhasil melakukan docking dengan Tiangong pada 1 November.Mereka akan tetap di orbit hingga tim Shenzhou-20 dinyatakan aman untuk kembali ke Bumi.Baca juga: Apollo-Soyuz: Momen Bersejarah Astronaut AS dan Uni Soviet Berjabat Tangan di Luar Angkasa


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-02-02 03:50