AHMAD Ali adalah kader anyar Partai Solidaritas Indonesia. Celetukan warung kopi menyebut ia hasil "naturalisasi", direkrut dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem) yang langganan masuk DPR. Posisinya melenting, yakni ketua harian PSI.Majalah TEMPO pernah menurunkan laporan tentang kencangnya PSI merekrut kader dari partai lain selepas kongres di Solo.Itu adalah langkah terobosan setelah partai ini bertekad bicara lebih banyak di panggung politik elektoral: Pemilihan Umum.Satu langkah yang lumrah dalam politik di negeri kita---terutama karena figur sosok begitu penting--dan juga dilakukan partai lain. Terkadang loncat pagar tak begitu dapat dibedakan dengan "kutu loncat".Dalam kiprahnya di dua pemilu, langkah PSI berakhir murung: Gagal ke Senayan lantaran tak memenuhi parliamentary threshold atau ambang batas suara yang harus dipenuhi partai politik untuk masuk DPR dan absah disebut partai nasional.Dan yang lebih murung, kegagalan PSI itu diraih saat mereka "menjual" sosok Joko Widodo secara terang-terangan.Ahmad Ali dinilai sebagai sosok tepat untuk mengangkat PSI. Ia ditempa dari bawah. Pernah jadi anggota DPRD dari Partai Patriot. Lalu nyaman dalam pelukan Nasdem sejak 2013.Kepiawaiannya menggalang suara terbukti saat ia terpilih jadi anggota DPR periode 2019-2024 dari Sulawesi Tengah di pemilu 2019 (nasdemdprri.id).Baca juga: Nasib (Partai) Politik Anak MudaDi tangan Ali, PSI ingin naik kelas: Dari sekadar partai perkotaan yang karib dengan panggilan "sis dan bro" menjadi partai yang menjangkau wilayah perdesaan.Ia pun bersafari, menguatkan kepengurusan di daerah agar infrastruktur PSI lebih rapi dan luas. Pokok kata, sanggup bersaing dengan partai yang telah terlatih masuk DPR.Dengan posisi sebagai ketua harian, Ali lebih nyaring berbicara atas nama PSI. Sebagai politikus, Ali terbilang sosok yang artikulatif. Pilihan kata yang ia gunakan tidak berkabut, alias jelas dan terang.Di sebagian hal, Ali menggemparkan. Seperti usai memberi arahan dalam Rakorwil PSI se-Kepulauan Riau di Batam, 22 November lalu."Sialnya Pak Jokowi ini gini, dia dihina, dimaki-maki. Tapi ketika dia melawan, dia disuruh, 'Pak Jokowi harus jadi negarawan'. Terus ketika dia bicara politik, 'ya sudah waktunya beristirahat'," ujar Ali (Kompas.com, 23/11/2025).Masalahnya, dalam kalimat selanjutnya, ia seperti menyindir seorang perempuan yang sudah puluhan tahun menjadi ketua umum partai.Kalimat ini merespons kritik sebagian pihak yang menyoal pilihan Jokowi tetap berpolitik selepas tak lagi menjabat presiden.Namun, kali ini, diksi yang dipilih Ali menerbitkan kontroversi. Ia memilih tak menyebut nama tokoh yang digunakan sebagai pembanding buat Jokowi. Sebaliknya Ali hanya memberi "clue"--pilihan yang segera bikin "panas" partai lain: PDI Perjuangan.Dokumentasi PDI-P. Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri saat berpidato dalam seminar peringatan 70 Tahun Konferensi Asia-Afrika di Blitar, Jawa Timur, Sabtu .Ada yang membalasnya sebagai "sedang pansos" atau panjat sosial. Kader PDI Perjuangan, Guntur Romli yang suka berpolemik dan rajin menanggapi diskusi publik tak ketinggalan merespons Ali."Yang bilang mau pulang ke Solo, pensiun, jadi rakyat biasa, momong cucu itu Jokowi sendiri, tidak ada yang nyuruh-nyuruh dia," kata Guntur (Kompas.com, 23/11/2025).Guntur mengingatkan, justru Jokowi yang ingin jadi rakyat biasa. Masih aktifnya Jokowi dalam medan diskusi serta politik praktis (menegaskan akan turun membantu PSI saat kongres di Solo), dalam kacamata ini, dinilai bertentangan dengan janji Jokowi---pensiun, jadi rakyat biasa dan momong cucu.
(prf/ega)
PSI Mengusik PDI-P
2026-01-12 04:32:16
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:50
| 2026-01-12 03:12
| 2026-01-12 03:12
| 2026-01-12 02:53










































