Pemprov Aceh Waspadai TBC dan Campak Menyerang Pengungsi Korban Banjir

2026-01-12 06:21:02
Pemprov Aceh Waspadai TBC dan Campak Menyerang Pengungsi Korban Banjir
BANDA ACEH, – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh kini mulai menaruh perhatian serius terhadap potensi peningkatan penyakit menular di lokasi pengungsian usai bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah.Koordinator Klaster Kesehatan Aceh, M. Syakir mengatakan, berdasarkan data terkini terdapat 9.204 penderita TBC di wilayah terdampak bencana.Kondisi pengungsian yang padat dan mobilitas warga tinggi dinilai meningkatkan risiko penularan penyakit.“Tuberkulosis (TBC) dan campak menjadi dua penyakit utama yang diwaspadai, mengingat kondisi pengungsian yang padat serta keterbatasan sarana pendukung,” kata M Syakir yang juga Asisten I Sekda Aceh dalam keterangan tertulisnya, Kamis .Baca juga: Satu Bulan Pasca-Banjir Aceh Tamiang, Warga Tidur di Atas Papan dan KedinginanKepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, menyebutkan TBC dan campak menjadi ancaman yang harus segera ditanggulangi.Salah satu cara adalah memisahkan tenda pengungsian antara penderita TBC dengan masyarakat umum lain.Namun kekhawatiran akan menularnya penyakit campak juga harus diwaspadai.Apalagi anak-anak sulit dikontrol ruang geraknya.“Setiap hari di pengungsian selalu terdapat kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, dan lansia. Penyakit yang paling kami khawatirkan adalah campak dan TBC. Pemisahan pasien secara ideal memang diperlukan, namun di lapangan terutama untuk anak-anak hal ini sangat sulit dilakukan,” katanya.Baca juga: Pendidikan Ribuan Santri Terhenti, 211 Pesantren di Aceh Utara Masih Rusak Akibat BanjirFerdiyus menyebutkan, keterbatasan air bersih di sejumlah titik pengungsian juga mulai memicu kasus penyakit kulit.Meski demikian, ia memastikan ketersediaan obat-obatan, khususnya untuk penyakit kulit, masih mencukupi.“Relawan kesehatan yang sudah berada di lapangan berjumlah 126 orang. Pada awal Januari 2026, Kementerian Kesehatan RI direncanakan akan menambah sekitar 600 relawan. Kendala utama saat ini adalah akses transportasi dari posko ke desa-desa terpencil,” ujarnya.Baca juga: Banjir Susulan di Pidie Jaya Aceh Sudah SurutMelalui Health Emergency Operational Center (HEOC), layanan kesehatan telah menjangkau 6.073 orang dengan total kunjungan medis mencapai 71.764 kali.Penyakit yang paling banyak ditangani meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, diare, hipertensi, dan demam.Untuk mendukung layanan kesehatan, Pemerintah Aceh telah menyalurkan berbagai logistik kesehatan.Antara lain obat-obatan dan bahan medis habis pakai, makanan tambahan bagi balita dan ibu hamil, vitamin A, serta paket sanitasi.Data Klaster Kesehatan juga mencatat jumlah kelompok rentan yang cukup besar, antara lain 459.428 lansia, 394.250 balita, serta lebih dari 100 ribu ibu hamil dan ibu menyusui.


(prf/ega)