Kisah Gloria Elsa, Perias Jenazah yang Mengabdi Lewat Pelayanan Terakhir

2026-01-12 10:55:59
Kisah Gloria Elsa, Perias Jenazah yang Mengabdi Lewat Pelayanan Terakhir
JAKARTA, - Profesi perias jenazah bukanlah pekerjaan yang umum ditemui di tengah masyarakat perkotaan.Meski begitu, keberadaannya sangat penting dalam proses penghormatan terakhir bagi seseorang yang telah berpulang.Di balik pekerjaan yang sarat emosi, stigma, sekaligus membutuhkan keterampilan teknis tinggi itu, ada sosok-sosok yang memilih menjalaninya sebagai pelayanan kemanusiaan.Salah satunya adalah Gloria Elsa Hutasoit (42), perias jenazah yang sejak muda telah mengabdikan diri untuk memastikan setiap orang mendapatkan wajah terbaik pada hari terakhirnya.Baca juga: Jenazah Alvaro Kiano Dimakamkan, Sang Ibu Terduduk Tak Rela BeranjakGloria bercerita panjang tentang perjalanan hidupnya, teknik merias jenazah yang rumit, dan alasan ia menyebut pekerjaan ini sebagai “pelayanan”.Kisahnya memperlihatkan bagaimana profesi yang tampak sunyi ini sebetulnya memiliki lapisan makna sosial yang dalam.Awal mula Gloria masuk ke dunia perias jenazah bukanlah sesuatu yang direncanakan. Namun sejak muda, ia memang sudah menyukai dunia tata rias.Ketertarikannya semakin berkembang ketika melihat sang ibu, seorang perawat sekaligus pelayan gereja yang kerap memandikan jenazah.“Saya terjun ke dunia perias jenazah dari muda suka sekali makeup, dan kebetulan mama adalah perawat di RS dan pelayanan di gereja untuk memandikan jenazah,” kata Gloria kepada Kompas.com, Jumat .“Pertama kali saya merias jenazah tante saya yang bekerja sebagai pemulung. Di situ saya tergerak bahwa pengantin Tuhan berhak dipersiapkan dengan layak di hari terakhirnya,” lanjutnya.Foto: Instagram @periasjenazah.gloriaelsa) Gloria Elsa Hutasoit (42), Perias Jenazah.Pengalaman perdana di tahun 2001 itu meninggalkan bekas emosional yang kuat.Ia melihat bahwa periasan jenazah bukan sekadar pekerjaan teknis, tetapi bentuk penghormatan terakhir kepada seseorang yang mungkin seumur hidup tidak pernah mendapatkan perlakuan istimewa.Baca juga: Detik-detik Penggerudukan Rumah Pemilik WO di Jaktim oleh Ratusan Korban PenipuanSejak saat itu, ibunya mulai mengajak Gloria membantu pelayanan merias jenazah.Ia ikut serta memandikan jenazah, belajar teknik dasar, dan memahami bahwa kematian bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dijalani dengan hormat.Gloria mulai menekuni dunia perias jenazah sejak 2016 dan banyak melayani pemulasaraan jenazah di wilayah DKI Jakarta.Ia tidak terikat pada rumah sakit atau rumah duka tertentu, sehingga panggilan pekerjaan datang secara tidak menentu.“Saya bekerja di wilayah DKI Jakarta saja, tetapi kalau ada permintaan di luar Jakarta saya menerima. Sehari bisa satu sampai tiga jenazah, kadang seharian tidak merias sama sekali karena saya tidak bekerja sama dengan banyak rumah sakit atau rumah duka,” ujarnya.Di tengah ketidakpastian jadwal, ia tetap memilih bekerja mandiri. Baginya, kebebasan waktu memungkinkan ia lebih fokus pada pelayanan keluarga, terutama mereka yang berasal dari kalangan tidak mampu.Baca juga: Di Balik Tanggul Laut Bocor, Ada Warga yang Selalu WaswasTidak sedikit permintaan yang ia layani dengan tarif ringan atau bahkan tanpa bayaran.“Kalau saya bisa bantu, saya bantu. Saya ingat tante saya, dan banyak orang yang butuh dipersiapkan dengan layak,” katanya.Bagi sebagian orang, bertemu jenazah adalah pengalaman yang memunculkan rasa takut, ngeri, atau canggung.Namun bagi Gloria, perasaan itu sama sekali tidak muncul. “Yang saya rasakan saat bertemu dengan jenazah adalah bahagia bisa menolong mempersiapkan jenazah tak mampu,” ujarnya.Kalimat itu menggambarkan cara pandangnya yang unik. Ia melihat jenazah bukan sebagai sumber ketakutan, melainkan seseorang yang membutuhkan sentuhan terakhir agar keluarga bisa melepas kepergian dengan lebih tenang.


(prf/ega)