Harga Properti di Jalur MRT Jakarta Melonjak Dua Kali Lipat

2026-01-12 06:15:52
Harga Properti di Jalur MRT Jakarta Melonjak Dua Kali Lipat
JAKARTA,  — Memasuki penghujung tahun 2025, peta kekuatan pasar properti Jakarta telah mengalami pergeseran paradigma secara permanen.Jika satu dekade lalu kemewahan sebuah hunian atau perkantoran diukur dari luas lahan dan eksklusivitas gerbangnya, kini indikator kemakmuran aset properti telah berpindah ke titik-titik koordinat stasiun Mass Rapid Transit (MRT).Transportasi publik bukan lagi sekadar pelengkap infrastruktur, melainkan jantung yang memompa nilai ekonomi dan likuiditas aset di sepanjang koridor utama ibu kota.Baca juga: Jelajahi 14 Mal Termurah dan Termewah dengan MRT JakartaLaporan tahunan Cushman & Wakefield Indonesia bersama MRT Jakarta mengungkap fenomena yang mempertegas dominasi ini.Bahwa selisih tingkat hunian dan harga properti antara gedung di jalur MRT dibandingkan lokasi non-MRT telah melebar hingga dua kali lipat hanya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal kuat bagi investor bahwa efisiensi mobilitas telah menjadi mata uang baru dalam penentuan harga properti di metropolitan.Head of Strategic Consulting at Cushman & Wakefield Indonesia, Arief Rahardjo, menyoroti bagaimana gedung perkantoran Grade A di sepanjang koridor MRT Jakarta Fase 1 Lebak Bulus–Bundaran HI telah memanen keuntungan dari ketergantungan publik pada transportasi rel.Tingkat hunian perkantoran CBD Jakarta secara umum diprediksi menyentuh angka 79 persen pada 2026, naik dari 77 persen pada akhir 2025.Baca juga: MRT Jakarta dan Kota Harapan Indah Sepakat Kembangkan Kawasan TOD"Namun, di balik angka tersebut, gedung-gedung yang memiliki akses langsung ke stasiun MRT Jakarta mencatatkan pertumbuhan okupansi yang jauh lebih agresif," uyar Arief, menjawab Kompas.com, Rabu .Kenaikan ini berbanding lurus dengan matriks harga sewa. Dengan terbatasnya lahan kosong di jantung Jakarta, proyeksi pertumbuhan harga sewa mencapai 4 persen pada tahun depan.Kelangkaan ini memicu strategi baru bagi para pemilik aset di koridor Thamrin hingga Kota Tua: redevelopment.Memasuki tahun 2026, tren pengembang tidak lagi mencari lahan mentah, melainkan mengakuisisi dan membangun ulang gedung-gedung lama untuk diselaraskan dengan teknologi interkoneksi langsung ke bawah tanah.Tak hanya sektor perkantoran, dampak beroperasinya MRT Jakarta terhadap sektor ritel juga terbukti jauh lebih fenomenal dibandingkan sektor lainnya.Sejak pandemi berakhir, tingkat hunian ritel di koridor MRT tumbuh rata-rata 1,4 persen per tahun.Baca juga: Biaya Konstruksi Whoosh Disebut Lebih Murah dari MRT JakartaAngka ini secara konsisten melampaui performa mal-mal konvensional yang tidak memiliki akses rel.


(prf/ega)