BANGKOK, - Ekspor beras Thailand diperkirakan melemah pada tahun depan seiring penguatan nilai tukar baht yang menekan daya saing di pasar global.Dikutip dari Bangkok Post, Minggu , Kementerian Perdagangan Thailand memproyeksikan volume ekspor beras pada 2026 turun menjadi sekitar 7 juta ton, dari sekitar 8 juta ton pada 2025.Kepala Departemen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Thailand, Arada Fuangtong, mengatakan penguatan baht menjadi salah satu faktor utama yang membebani kinerja ekspor produk pertanian, termasuk beras.Baca juga: Pemerintah Klaim Harga Beras Turun Usai Satgas DibentukPIXABAY/MOHD SYAHIDEEN OSMAN Ilustrasi beras. “Jika nilai tukar baht terus seperti ini, akan menimbulkan tantangan besar bagi produk pertanian Thailand,” kata Arada dalam konferensi pers, Jumat . Ia menekankan pentingnya stabilitas dan daya saing nilai tukar baht.“Nilai tukar baht harus kompetitif dan stabil,” ujarnya.Arada menambahkan bahwa nilai tukar baht Thailand saat ini 10 sampai 20 persen lebih kuat dibandingkan mata uang negara pesaing.Baca juga: Beras Kian Mahal, Strategi Belanja dan Promo Ini Bisa Jadi Solusi Jelang Akhir TahunBaht saat ini diperdagangkan pada level tertinggi dalam empat tahun terhadap dollar AS. Sepanjang tahun ini, mata uang tersebut telah menguat sekitar 9,4 persen dan tercatat sebagai mata uang dengan kinerja terbaik kedua di Asia.Penguatan baht memperpanjang daftar tantangan yang dihadapi ekonomi terbesar ketiga di Asia Tenggara tersebut sepanjang tahun ini.Selain tekanan nilai tukar, Thailand juga menghadapi dampak tarif Amerika Serikat (AS), tingginya utang rumah tangga, konflik perbatasan dengan Kamboja, serta ketidakpastian politik menjelang pemilihan umum pada Februari 2026 mendatang.Dok. Freepik Ilustrasi beras.Tekanan di sektor pertanian juga tercermin dari penurunan harga beras di tingkat petani. Kondisi ini sempat memicu tuntutan dari petani pada awal tahun agar pemerintah memberikan dukungan yang lebih kuat untuk menjaga pendapatan mereka.Baca juga: Bulog Pastikan Stok dan Harga Beras Stabil Jelang Tahun Baru 2026Di tengah tantangan tersebut, Arada menyampaikan bahwa sejumlah kontrak ekspor tetap berjalan.Salah satunya adalah kesepakatan penjualan 500.000 ton beras ke China yang diperkirakan berlanjut, didukung oleh hubungan bilateral yang kuat antara kedua negara.Selain itu, pada bulan lalu Thailand juga menyepakati penjualan hingga 100.000 ton beras ke Singapura untuk periode lima tahun. Kesepakatan ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan ekspor di tengah persaingan global yang semakin ketat.Pemerintah Thailand juga terus memperluas pasar ekspor beras putih dan beras parboiled ke sejumlah negara, termasuk Irak, Arab Saudi, serta negara-negara lain di kawasan Timur Tengah dan Afrika.Baca juga: Jelang Nataru, Bulog Pasok 1.200 Ton Beras ke Polres-Kodim Papua
(prf/ega)
Ekspor Beras Thailand Terancam Turun Tahun Depan, Ini Sebabnya
2026-01-12 06:10:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:23
| 2026-01-12 05:26
| 2026-01-12 05:20
| 2026-01-12 05:06
| 2026-01-12 04:27










































